Dapatkan Uang, klik link ini http://projects.id/uangberkah

Sabtu, 16 Mei 2020

Kebiasaan Orang yang Benar-Benar Cerdas

15 Kebiasaan Orang yang Benar-Benar Cerdas
(Oleh : Jessica Wildfire)

Selama bertahun-tahun, saya mengajar remaja yang berbakat - cukup lama untuk mengetahui bunyinya ketika seseorang mengangkat IQ mereka. Orang paling malas secara intelektual yang saya temui terobsesi dengan kecerdasan mereka.
Itu menghancurkan semua hubungan mereka.
Saya juga menghabiskan waktu bertahun-tahun mengajar siswa perkembangan, yang telah dilewatkan oleh semua orang - mereka yang diberi tahu bahwa mereka membutuhkan lebih banyak kelas "perbaikan" sebelum mereka diizinkan mengambil yang asli.
Dua belas tahun dalam pendidikan telah mengajarkan saya satu pelajaran besar: Perbedaan antara kecerdasan dan ketidaktahuan bukanlah tentang IQ atau kemampuan kognitif. Biasanya datang ke pola pikir Anda.

Inilah yang dilakukan orang yang benar-benar cerdas - terlepas dari mana mereka berasal, atau seperti apa penampilan mereka:
1. Mereka tidak berbicara tentang seberapa pintar mereka.
Karena mereka tidak harus melakukannya. Jika Anda selalu melakukan dan mengatakan hal-hal cerdas, orang akan memperhatikan. Orang pintar tidak tertarik dengan apa yang mereka rasakan. Mereka sibuk menumbuhkan pikiran mereka.
2. Mereka belajar terbaik dengan meniru.
Semua orang mendapat manfaat dari sedikit panduan, tetapi orang-orang cerdas lebih suka menonton apa yang dilakukan para profesional terlebih dahulu. Mereka membalik kesuksesan insinyur dengan mempelajari apa yang berhasil dan kemudian mencobanya.
3. Mereka mencoba mencari tahu sendiri.
Tidak ada yang bisa mengajarkan diri mereka segalanya. Tetapi langkah pertama orang cerdas bukanlah meminta bantuan atau instruksi langkah demi langkah. Mereka ingin bereksperimen dan memecahkan masalah. Mereka mengembangkan semua jenis otot mental dengan melakukan ini, dan mereka biasanya dapat berenang sendiri.
Mereka akan tenggelam selama beberapa detik.
Orang cerdas ingin berjuang sedikit lebih dulu. Orang yang cerdas mungkin terlihat keras kepala, tetapi mereka benar-benar hanya mandiri. Anda tidak sampai di sana dengan menyerah terlalu cepat dan membiarkan seseorang melakukan sesuatu untuk Anda - atau memandu Anda melalui setiap langkah dari setiap proses.
4. Mereka selalu mencari ilmu.
Orang cerdas fokus pada apa yang ingin mereka ketahui, bukan pada apa yang sudah mereka ketahui — atau apa yang mungkin mengesankan seseorang.
5. Mereka tidak membual tentang apa yang mereka ketahui.
Orang cerdas menerapkan ilmunya. Mereka tidak menyimpannya dalam wadah piala untuk dipajang.
6. Mereka menghubungkan titik-titik.
Orang cerdas mencari koneksi antara hal-hal yang berbeda. Mereka membaca lintas bidang dan disiplin ilmu. Mereka dapat mengimpor ide dari satu konteks ke konteks lain dan membukanya.
7. Mereka baik-baik saja dengan disonansi kognitif.
Dunia berkontradiksi dengan dirinya sendiri sepanjang waktu. Orang cerdas dapat memegang dua ide yang saling bertentangan di kepala mereka pada saat yang sama, dan menemukan cara untuk mengagumi masing-masing dengan kekuatan dan kelebihannya sendiri.
8. Mereka banyak bertanya.
Orang cerdas tahu bahwa mereka tidak akan pernah tahu bagaimana semuanya berjalan, tetapi mereka tetap ingin mencoba.
Yang ini mungkin bertentangan dengan sifat swasembada. Tapi orang pintar jadi penasaran. Kadang-kadang mereka suka menembakkan rentetan pertanyaan sebelum mereka melompat masuk dan membuat tangan mereka kotor.
9. Mereka abstrak dari pengalaman mereka.
Orang yang cerdas menemukan pola dalam hal-hal biasa dan meningkatkannya. Mereka selalu mengamati bagian-bagian kecil kehidupan yang diabaikan oleh semua orang, dan mencari cara untuk menjelaskannya. Penjelasannya menjadi teori, dan itu bisa mengarah pada terobosan besar.
10. Mereka mencari teka-teki dan paradoks.
Sesuatu yang menentang penjelasan seperti hadiah Natal untuk orang yang cerdas. Mereka suka membungkus pikiran mereka di sekitar hal-hal yang tidak bisa atau tidak masuk akal, karena mereka tahu sesuatu menyebabkan hal itu terjadi - mereka hanya belum tahu apa itu.
11. Mereka tidak terpaku pada remah.
Orang cerdas baik-baik saja membiarkan seseorang bertindak seperti orang brengsek, selama mereka melakukannya di sana - dan tidak menghalangi.
12. Mereka bergerak lambat, sampai mereka mencapai kecepatan warp.
Pikirkan tentang terakhir kali Anda melihat orang cerdas beraksi. Mereka duduk diam selama beberapa menit sementara yang lain bertengkar dan sok megah. Atau mereka menjadi gelap selama beberapa hari sementara semua orang bergegas. Jika Anda tidak mengenal orang cerdas dengan baik, Anda mungkin berpikir mereka bodoh atau malas pada awalnya. Kemudian mereka mengatakan atau melakukan sesuatu yang sangat brilian sehingga mengubah segalanya. Hal yang mereka lakukan - itu disebut memikirkan masalah sebelum melakukan apa pun.
13. Mereka tidak memiliki masalah dengan kegagalan.
Percobaan yang gagal hanyalah informasi. Mungkin itu tidak membayar tagihan atau menyapu hibah, tetapi selalu selangkah lebih dekat ke menit eureka yang mereka cari. Mereka kebal terhadap kegagalan karena dipanggang.
14. Mereka tidak berusaha terdengar pintar.
Anda tahu Anda berbicara dengan orang yang cerdas ketika Anda merasa lebih pintar setelah percakapan, karena mereka menjelaskan sesuatu yang rumit dengan cara yang sederhana sehingga hampir semua orang bisa mendapatkannya.
14-b. Mereka membuat semua orang di sekitar mereka merasa pintar.
Lihat di atas. Saya hanya ingin menekankan hal ini. Anda akan sering menemukan orang cerdas yang memuji kecerdasan orang lain.
15. Mereka tidak selalu menggunakan kata-kata besar.
Orang cerdas menggunakan kata yang tepat. Terkadang itu kata yang besar, dan terkadang itu sederhana.
Kebiasaan utama: Mereka berlatih empati.
Jika ada satu kebiasaan yang mengawasi semua yang lain, itu empati. Orang cerdas mencoba berpikir dari berbagai sudut pandang. Mereka mencoba memahami bagaimana tindakan mereka memengaruhi setiap orang - bukan hanya diri mereka sendiri, atau segelintir orang yang mereka sayangi atau setujui.
Kami biasanya tidak menganggap empati sebagai proses mental, tetapi memang demikian. Perasaan terjadi di otak kita, dan itu terhubung dengan pikiran.
Kami cenderung menganggap sains dan logika bertentangan dengan empati, bahwa mereka dingin. Mereka tidak, dan mereka tidak. Intelegensi adalah tentang merawat apa yang terjadi di dunia di sekitar Anda, dan bagaimana Anda menyesuaikan diri dengannya.
Tidak ada yang namanya objektivitas, hanya memperhitungkan pandangan dan perasaan semua orang sebelum Anda melakukan sesuatu.
(Atau katakan sesuatu.)
Mereka juga suka mendengarkan argumen dan debat lebih dari melompat ke tengah-tengah mereka. Mereka membuat ruang untuk suara selain suara mereka sendiri. Mereka tahu bahwa Anda menjadi pintar dengan mendengarkan, belajar, dan mengamati.

Jumat, 15 Mei 2020

TEKNIK PERMAINAN INSTRUMEN PERKUSI

TEKNIK PERMAINAN INSTRUMEN PERKUSI (PITCH dan NON PITCH)

Dalam musik perkusi, teknik pukulan perkusi tidak jauh dari kata rudiment. Rudiment sendiri adalah salah satu pola dasar yang digunakan dalam rudimental drumming, yaitu berupa kombinasi pukulan stick antara tangan kanan dan kiri untuk menciptakan musik (Putro 2013: 5).
Adapun 40 rudiment yang berkembang hingga saat ini, penjelasan singkat setiap rudiment sebagai berikut:
(1) Single stroke Roll: Dimainkan dengan memukul secara bergantian berurutan antara tangan kanan (R) dan tangan kiri (L).
(2) Single stroke Four: Empat not yang dimainkan tangan kanan dan kiri bergantian berurutan, biasanya triplet dan diikuti sebuah not seperdelapanan.
(3) Single stroke Seven: Tujuh not yang dimainkan tangan kanan dan kiri bergantian berurutan, biasanya diikuti sebuah not seperempat.
(4) Multiple Bounce Roll: Sebuah pukulan dengan beberapa pantulan yang menghasilkan suara dan bersambung terus menerus disebut juga “buzz roll”.
(5) Triple Stroke Roll: Tiga pukulan spesifik yaitu tiga pukulam dari sebelah tangan diikuti tangan sebelahnya (RRRLLL).
(6) Double Stroke Open Roll (Long Roll): Seperti single stroke yang dilakukan tangan secara bergantian, hanya saja masing-masing tangan memukul dua kali atau didle (double).
(7) Five Stroke Roll: Dua didle dengan satu not tang 21 di aksen (diperkeras).
(8) Six Stroke Roll: Dimulai dengan satu not yang di aksen (diperkeras) diikuti dengan dua didle dan satu lagi not yang di aksen.
(9) Seven Stroke Roll: Tiga didle dan diikuti satu not yang diaksen (diperkeras).
(10) Nine Stroke Roll: Empat didle diikuti dengan satu not yang di aksen (diperkeras).
(11) Ten Stroke Roll: Empat didle diikuti dengan dua not yang diaksen (diperkeras).
(12) Eleven Stroke Roll: Lima didle yang diikuti satu not yang diaksen (diperkeras).
(13) Thirteen Stroke Roll: Enam didle diikuti satu not yang diaksen (diperkeras).
(14) Fifteen Stroke Roll: Tujuh didle diikuti satu not yang diaksen (diperkeras).
(15) Seventeen Stroke Roll: Delapan didle diikuti satu not yang diaksen (diperkeras).
(16) Single Paradidle: Dimulai dengan tangan memukul satu not bergantian diikuti didle. Agar lebih mudah nengaplikasikannya, sebaiknya memperhatikan catatan berikut: PARA = single (RL), DIDLE = double (RR atau LL).
(17) Double Paradidle: DOBLE PARA adalah RLRL atau LRLR, DIDLE adalah RR atau LL, jika disatukan dan dimulai dari tangan kanan RLRLRR, jika dari tangan kiri LRLRLL.
(18) Triple Paradidle: Tiga RL diikuti satu didle.
(19) Paradidle-Didle: Satu para (RL) diikuti dua didle (RRLL) untuk tangan kanan dan sebaliknya untuk tangan kiri.
(20) Flam: Dua taps (satu grace not diikuti satu full volume tap atau not utama), catatan : GRACE NOT adalah not yang ditulis lebih kecil. Dimainkan bersamaan dan sangat dekat dengan not utama. (21) Flam Accent: Triplet dengan satu flam diikuti dua tap yang dimainkan keda tangan secara bergantian.
(22) Flam Tap: Dua didle dengan flam pada not pertama di setiap didle.
(23) Flamacue: Grup empat not dan satu ending downbeat, dimana pada not pertama dan dow nbeatnya erdapat flam dan pada not kedua pukulan 22 diaksen (diperkeras).
(24) Flam Paradidle: Sebuah paradidle dengan sebuah flam pada not pertama.
(25) Single Flam Mill: Paradidle yang dibalik (RRLR LLRL) dengan sebuah flam pada not pertama di setiap didle.
(26) Flam Paradidle-Didle: Sebuah paradidle-didle dengan flam pada not pertama di setiap paradidle-didle.
(27) Pataflafla: Empat not dengan flam pada not pertama dan terakhir.
(28) Swiss Army Triplet: Flam tangan kanan ( tangan kanan sebagai not utama) diikuti tap tangan kanan kemudian tap tangan kiri, dan sebaliknya untuk tangan kiri.
 (29) Inverted Flam Tap: Beberapa didle ditulis dalam not seperenambelasan yang dimulai dengan satu pukulan diikuti didle dan selanjutnya akan membentuk beberapa didle dimana terdapat flam pada not kedua di setiap didle.
(30) Flam Drag: Grup tiga not dalam bentuk (flam-drag-tap).
(31) Drag (Half Drag or Ruff): Dua grace not didle diikuti sebuah tap.
 (32) Single Drag Tap (Single Drag): Dua not yang digunakan bergantian berurutan dengan sebuah grace not drag pada not pertama dan not keduanya diaksen (diperkeras).
(33) Double Drag Tap (Double Drag): Sebuah single drag tap dengan sebuah grace not drag yang lain sebelumnya.
(34) Lessen 25 (Two and Three): Tiga not dipukul bergantian (biasa) dengan grace not drag pada not pertama dan not ketiga diaksen (diperkeras).
(35) Single Dragadidle: sebuah padadidle dimana not pertamanya adalah sebuah drag.
(36) Drag Paradidle No. 1: Sebuah not yang diaksen (diperkeras) diikuti paradidle dengan grace not drag pada not pertama.
(37) Drag Paradidle no. 2: Dua not yang diaksen (diperkeras) diikuti paradidle dengan grace not drag pada not kedua yang diaksen (diperkeras) dan pada not pertama paradidle.
(38) Single Ratamacue: Berisi empat not dimana terdapat grace not drag pada not pertama 23 dan not keempat diaksen (diperkeras).
(39) Doble Ratamacue: Berisi single ramatacue dengan drag (half drag) sebelumnya.
(40)Triple Ramatacue: Berisi single ratamacue dengan dua drag (half drag) sebelumnya (Putro 2013: 13-18).

Progressi Akord Pada Musik Orchestra

CARA MEMPROGRES VERTIKAL NADA NADA 
MUSIK ORCHESTRA
(Oleh : SR.Pakpahan,SST)
Suatu lagu yang diciptakan dan sudah dipublish oleh si komposer dapat dipakai lagi oleh seorang aranger untuk merubah atau mengkonversi lagu tersebut menjadi lagu orchestra bila saja si/sang aranger mengetahui nada nada di suatu bar katakanlah di bar 10 atau bar 11 merupakan gugusan nada trebel atau bass, dan di bar tersebut bisa diketahuinya progres level nada keberapa ia, apakah progress nadanya ke-1, atau progres ke-2, atau progres ke-3 nada.
Bila kita tidak tahu suatu gugusan nada dari bagian lagu yang kita ciptakan itu progres keberapa ia, dan tidak tahu gugusan nada itu apakah trebel atau bass, maka sebaiknya tidak usah membuat lagu tersebut menjadi lagu orchestra. cukuplah lagu tersebut seperti itu adanya.
Bila seseorang memberi kepada aranger berupa sebuah partiture lagu yang isinya part/bagian dari score yang hanya berupa notasi balok atau notasi angka lagu nada vokal saja, dapatkah si aranger tersebut menciptakan lagu orchestra dari notasi lagu tersebut? Tentu saja bisa ya, bisa tidak, itu tergantung dari keahlian si aranger .dalam mencipta lagu orchestra, sumber lagu tersebut harus diaransemen terlebih dahulu untuk mendapatkan bagian bagian komposisi nada vokalnya dalam gugusan nada nada trebel vokal maupun nada nada bass vokal di progres akord nadanya masing masing. Kalau dari PMD, hal demikian tidaklah terlalu sulit untuk mengaransemen sebuah lagu. Teknik,/metode mengaransemen sebuah lagu  yang dipakai dengan menggunakan metode Fifty fifty Composition to Arrangement akan dibahas di tutorial tersendiri.
Sebelum kita masuk pembahasa progressi akord pada musik orchestra, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami dan menguasai apa itu Tangga Nada Mayor/Minor, Akord Mayor/Minor, dan Progressi Akord Tangga Nada Mayor/Minor.


Tangga Nada Mayor
            Nada nada yang memiliki susunan interval/jarak antar nada yang tertentu menurut tangga nadanya pada suatu lagu akan dapat dinyanyikan atau dimainkan dengan alat/instrumen musik dengan harmonis dan indah. Nada-nada ini membentuk ciri khasnya tersendiri yang telah progres sesuai akord-akordnya.
            Sehingga tangga nada merupakan akar atau pondasi dari susunan nada-nada yang dinyanyikan atau dimainkan dengan alat/instrument musik.
            Tangga nada yang dibahas pada buku ini dan buku-buku series selanjutnya adalah tangga nada mayor dan tangga nada minor. Tangga nada mayor dan minor merupakan tangga nada dasar sebagai pondasi dari semua susunan perkembangan tangga nada lainnya yang lebih rumit.
            Adapun ketentuan interval/jarak antar nada sehingga tersusun tangga nada mayor adalah:
            1    1   ½   1   1   1   ½
            Sebagai contoh, jika tangga nada mayor diterapkan pada suatu lagu dengan nada dasar C=1, maka susunan tangga nada C mayor adalah sebagai berikut:
            C   D   E    F   G   A   B   C’
                1    1   ½    1    1    1   ½
            Untuk merubahnya menjadi tangga nada mayor dengan nada dasar G=1, maka susunan tangga nada G mayor adalah sebagai berikut:
            G    A    B    C’   D’   E’   F#’   G’
                 1     1    ½    1     1      1     ½
            Demikian berlaku hal yang sama juga untuk nada dasar lainnya pada penyusunan tangga nada mayor tetap harus memenuhi interval atau jarak antar nadanya adalah:     1     1    ½    1     1      1     ½

Akord Mayor
            Pada dasarnya tangga nada berfungsi untuk menyusun komposisi ritme dan melodi dari suatu lagu yang dinyanyikan atau dimainkan alat/instrument musik. Tangga nada berfungsi juga untuk membentuk susunan akord dan progresi akord. Akord dan progresi akord ini berfungsi juga untuk membentuk komposisi ritme dan melodi suatu lagu yang akan diciptakan/diaransemen.
        Akord adalah suatu susunan nada-nada dari suatu tangga nada dengan sebuah pola interval/jarak tertentu atau dengan pemilihan nada nada tertentu yang harmonis. Sehingga akord merupakan kunzip (bagian) dari tangga nada nada dasar yang ektrak.
            Akord dasar (natural) terdiri dari 3 nada yang merupakan bagian dari tangga nada nada dasarnya yang disusun dari nada ke: 1 - 3 - 5 dari tangga nada nada dasarnya. Sehingga untuk  Akord Mayor disusun dari nada ke 1 - 3 - 5 dari tangga nada mayornya.    
            Contoh  cara menyusun akord mayor C=1 yaitu yang merupakan nada ke 1 – 3 – 5 dari tangga nada C mayor adalah:
  dari          1    2    3    4    5    6    7    1’
                  C   D   E    F   G   A    B   C’      
            Jadi nada nada akord C mayor adalah nada ke 1 - 3 -5 yaitu nada nada C  E  G

Progresi Akord Tangga Nada Mayor
            Progresi akord adalah susunan dari beberapa akord yang digerakkan/berpindah pada suatu lagu yang sesuai dengan nada dasar yang digunakan pada lagu tersebut sehingga ritme dan melodinya menjadi indah dan harmonis.
            Ketentuan untuk menentukan susunan progresi akord mayor adalah sebagai berikut:
Nada ke:
            I Mayor – II Minor – III Minor – IV Mayor – V Mayor – VI Minor – VII Minor Diminished
Sebagai contoh untuk menyusun progresi akord C Mayor (C=1) adalah :
       C mayor – D Minor – E Minor – F Mayor – G Mayor – A Minor – B Minor Diminished
            Penyusunan progresi akord didasarkan pada tangga nada yang digunakan sebagai nada dasar dan nada nada lain yang membentuknya. Sebagai contoh penyusunan progresi akord C Mayor (C=1), maka susunan nad-nada yang digunakan adalah nada-nada yang ada terdapat pada tangga nada C mayor yang disusun dari masing masing akordnya yang terkandung pada tangga nada C mayor, susunannya adalah sebagai berikut:

Urutan Nada
Akord
Nada-nada yang membentuk
I

II

III

IV

V

VI

VII
C Mayor

D Minor

E Minor

F mayor

G mayor

A Minor

B Minor Diminished
C – E – G  ( 1 – 3 – 5 )
D – F – A  ( 2 – 4 – 6 )
E – G – B  ( 3 – 5 – 7 )
F – A – C’  ( 4 – 6 – 1’ )
G – B – D’  ( 5 – 7 – 2’ )
A – C’ – E’  ( 6 – 1’ – 3’ )
B – D’ – F’  ( 7 – 2’ – 4’ )

            Tangga nada mayor, akordnya dan progresi akordnya ini dapat kita terapkan pada pembuatan lagu orchestra yang akan kita ciptakan.

Tangga Nada Minor
            Tangga nada minor adalah susunan nada-nada yang memiliki interval/jarak antar nada yang tertentu menurut tangga nadanya sehingga terbentuk ciri khasnya tersendiri yang telah progress menurut akordnya.
            Ketentuan interval/jarak antar nada sehingga tersusun tangga nada minor adalah sebagai berikut:
            1   ½    1   1    ½    1    1
            Sebagai contoh, jika susunan interval/jarak nada tersebut diterapkan pada lagu dengan nada dasar A=1, maka terbentuk susunan tangga nada A Minor sebagai berikut:
            A    B    C    D   E     F    G    A’
                 1    ½     1    1    ½    1     1
            Untuk merubahnya menjadi tangga nada minor dengan nada dasar D=1, maka susunan tangga nada D Minor adalah sebagi berikut:
            D    E    F    G    A     Bb    C’    D’
                 1    ½     1    1     ½      1     1
            Demikian juga berlaku hal yang sama untuk nada dasar lainnya pada penyusunan tangga nada minor tetap harus tetap mengikuti ketentuan jarak/interval antar nadanya yaitu: 1   ½   1    1    ½    1    1.

Akord Minor
            Akord dasar (natural) minor juga terdiri dari 3 nada yang merupakan bagian dari tangga nada nada dasarnya yang disusun dari nada ke: 1 - 3 - 5 dari tangga nada nada dasarnya.
            Akord minor disusun dari nada ke 1 - 3 - 5 dari tangga nada minornya.
            Contoh  cara menyusun akord minor A=1 yaitu yang merupakan nada ke 1 – 3 – 5 dari tangga nada A minor adalah:
            6    7     1’    2’    3’    4’    5’    6’
            A   B   C’    D’   E’    F’   G’   A’
            Jadi nada nada akord A minor adalah nada ke 1 - 3 -5 yaitu nada nada A  C’ E’
            Cara lain untuk menentukan susunan akord minor dapat dibentuk melalui akord mayornya yang nada ke-3nya diturunkan setengah nada. Jadi akord minor dapat disusun dari nada ke: 1 – 3b – 5 dari akord mayornya.
            Contoh dari penyusunan akord mayor A=1, susunan tangga nadanya adalah
        6    7    1'#   2'    3'   4'#    5'   6'   
        A   B   C'#   D'   E'   F'#   G'   A
            1    1    ½     1     1     1    ½ 

            Nada nada akord A mayornya adalah nada ke 1 -3 -5 yaitu nada 6 – 1’# - 3’ atau A - C’# - E’,
Maka untuk mendapatkan akord A minornya adalah dengan menurunkan nada ke-3nya setengah nada dari akord mayornya sehingga susunan nadanya menjadi 6 – 1’ – 3’ atau  A – C’ – E’ yang merupakan akord A minornya.

Progresi Akord Tangga Nada Minor
            Ketentuan untuk menentukan susunan progresi akord minor adalah sebagai berikut:
Nada ke:
       I Minor – II Minor Diminished – III Mayor – IV Minor – V Minor – VI Mayor – VII Mayor
Sebagai contoh untuk menyusun progresi akord A minor (A=1) adalah :
       A Minor – B Minor Diminished – C Mayor – D Minor – E Minor – F Mayor – G Mayor
            Penyusunan progresi akord minor juga didasarkan pada tangga nada yang digunakan sebagai nada dasar dan nada nada lain yang membentuknya. Sebagai contoh penyusunan progresi akord A minor (A=1), maka susunan nad-nada yang digunakan adalah nada-nada yang ada terdapat pada tangga nada A minor yang disusun dari masing masing akordnya yang terkandung pada tangga nada A minor, susunannya adalah sebagai berikut:

Urutan Nada
Akord
Nada-nada yang membentuk
I

II

III

IV

V

VI

VII
A Minor

B Minor Diminished
C Mayor

D Minor

E Minor

F Mayor

G Mayor
A – C’ – E’  ( 6 – 1’ – 3’ )
B – D’ – F’  ( 7 – 2’ – 4’ )
C’ – E’ – G’  ( 1’ – 3’ – 5’ )
D’ – F’ – A’  ( 2’ – 4’ – 6’ )
E’ – G’ – B’  ( 3’ – 5’ – 7’ )
F’ – A’ – C’’  ( 4’ – 6’ – 1’’ )
G’ – B’ – D’’  ( 5’ – 7’ – 2’’ )

        Tangga nada minor, akordnya dan progresi akordnya ini juga dapat kita terapkan pada pembuatan lagu orchestra yang akan kita ciptakan.


Cara cepat menggunakan progressi akord tangga nada pada suatu lagu orchestra

Banyak para musisi menetapkan suatu metode atau cara cepat mengingat perubahan/penggantian suatu kunci akord ke kunci akord lainnya ketika sedang bermain musik agar kedengaran harmonis seperti sebagai berikut:
Untuk akord mayor:
ingat susunan progressi akordnya ada 7 yaitu: M m m M M m m, dimana M = Mayor, dan m = minor.
susunan progressi akord (M m m M M m m) ini sesuai pada susunan nada nada C D E F G A B (artinya C di mayor, D di minor, E di minor, F di mayor, G di mayor, A di minor, dan B di minor).
Jadi jika musik bermain awalnya memakai kunci akord C mayor, jika berikutnya maunya ke E maka kunci akordnya haruslah Em agar kedengaran harmonis, atau bila awalnya memakai kunci akord C mayor, berikutnya ke G maka kunci akordnya haruslah G agar kedengaran harmonis
Sedangkan untuk akord minor:
ingat susunan progressi akordnya ada 7 juga yaitu: m m M m m M M , dimana M = Mayor, dan m = minor.
susunan progressi akord (m m M m m M M ) ini sesuai pada susunan nada nada A B C D E F G (artinya A di minor, B di minor, C di mayor, D di minor, E di minor, F di mayor, dan G di mayor).
Jadi jika musik bermain awalnya memakai kunci akord Am, jika berikutnya maunya ke C maka kunci akordnya haruslah Cmayor agar kedengaran harmonis, atau bila awalnya memakai kunci akord Am, berikutnya ke G maka kunci akordnya haruslah G agar kedengaran harmonis.

Lain halnya bermain musik di PMD, dalam penentuan progressi akord cukup dibentuk dari nada nada yang merupakan susunan tangga nada dari nada dasar lagu yang dibuat sesuai dengan kaidah system progresi akord  dan NPL (Nada Penjuru Lagu). 


Rancangan Progresi Akord yang Sesuai Untuk Lagu Orchestra
            Dalam menciptakan suatu lagu Orchestra, kita harus mengerti dan menguasai proses-proses yang dilakukan mulai dari saat merancang/menyusun nada nada vokal lagu menurut NPL (Nada Penjuru Lagu), menyusun komposisi nada nada di masing masing instrumen musik Orchestra menurut IPM (Instrumen Penjuru Musik), hingga berikutnya sekarang kita akan menggandakan nada nada atau melakukan progres vertikal nada nada yang saling harmonis agar menghasilkan suatu struktur bangunan musik orchestra yang indah, megah, dan ringan yang berisikan keselarasan emotional melodi dengan brain ritme, dan keselarasan attitude harmony dengan faith percussion dari virtual instrumen instrumen yang dipakai, dan telah memenuhi kaidah system progresi akord dari nada nada yang terbentuk sesuai dengan tangga nada dari nada dasarnya lagu orchestra tersebut.
Banyaknya nada penggandaan menurut sistem  progres vertikal progresi akord nada musik Orchestra yang dibuat pada suatu komposisi nada suatu instrumen orchestra ini tergantung dari banyaknya instrumen vokal yang digunakan.
Dalam menentukan kualitas progresi akord, ada rumus yang dipakai dalam menentukan banyaknya maksimal penggandaan nada di suatu gugusan nada suatu instrumen bass maupun trebel  yaitu:
            P max = (iV/2) + 1
dimana :
P max = maksimal banyaknya penggandaan nada pada progres vertikal gugusan nada instrumen bass maupun trebel.
iV = jumlah instrumen Vokal yang digunakan dalam musik.
Dengan demikian, Jika hasil P max merupakan bilangan desimal atau pecahan, maka hasilnya dibulatkan ke bawah.
Jadi bila progress level nada ada di progress ke-1 dan jumlah instrumen vokal ada sebanyak 4 jenis, maka maksimal nada ganda yang diperbolehkan maksimal ada sebanyak 3 buah nada (Triad). Bila  progres ke-1 tersebut pada gugusan nada trebel vokal, maka komposisi nada ganda pada instrumen trebel lainnya belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (masih alami setangkai memuat 3 nada), sedangkan pada instrumen bass lainnya sudah mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir di progress ke-1 nya (setangkai memuat 3 nada, dengan nada ganda  nada turunan akhir telah diturunkan). 


Bila  progres ke-1 tersebut pada gugusan nada bass vokal, maka komposisi nada ganda pada instrumen trebel lainnya dan instrumen bass lainnya sama sama belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (masih alami setangkai memuat 3 nada),  penurunan nada ganda nada turunan akhir baru akan terjadi di progres ke-2.


Komposisi nada  ganda instrumen bass dan instrumen trebel akibat progres gugusan nada trebel vokal

bila progress level nada ada di progress ke-1 dan jumlah instrumen vokal ada sebanyak 4 jenis, maka maksimal nada ganda ada sebanyak 3 buah nada (Triad). Bila  progres ke-1 tersebut pada gugusan nada trebel vokal, maka komposisi nada ganda pada instrumen trebel lainnya belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (masih alami setangkai memuat 3 nada), lalu pada instrumen bass lainnya sudah mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir di progress ke-1 nya (setangkai memuat 3 nada, dengan nada ganda  nada turunan akhir telah diturunkan)


Dengan bergeraknya/berubahnya kunci akord di sepanjang nada nada lyric lagu yang diikuti oleh perubahan progress level nada akan membuat semakin rendahnya frekwensi nada ganda (turunan nada) yang  harmonis mengikuti nada tunggalnya (induk nada) di progres level nada tersebut.


Komposisi nada ganda instrumen bass dan instrumen trebel akibat progres gugusan nada bass vokal

Bila  progress level nada ada di progress ke-1 gugusan nada bass vokal, maka komposisi nada ganda pada instrumen trebel lainnya dan instrumen bass lainnya sama sama belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (masih alami setangkai memuat 3 nada),  penurunan nada ganda nada turunan akhir baru akan terjadi di progres ke-2.



Dengan bergeraknya/berubahnya kunci akord di sepanjang nada nada lyric lagu yang diikuti oleh perubahan progress level nada akan membuat semakin rendahnya frekwensi nada ganda (turunan nada) yang  harmonis mengikuti nada tunggalnya (induk nada) di progres level nada tersebut.

Komposisi nada ganda pada instrumen penentu dan instrumen bukan penentu akibat progres gugusan nada bass /trebel vokal.

Pada instrumen penentu dan bukan penentu memiliki banyaknya nada ganda  pada instrumen bass jumlahnya sama dengan banyaknya nada ganda pada instrumen trebel di progress level nada yang ada, akan tetapi bila progres level nada ada di progres ke-1 gugusan nada trebel vokal, maka instrumen  bass dari instrumen penentu dan bukan penentu akan memiliki komposisi nada ganda nada turunan akhir yang lebih rendah dari nada turunan akhir instrumen trebel. Dengan kata lain,  pada komposisi nada ganda  instrumen trebel belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (nada ganda masih alami), sedangkan pada instrumen bass sudah akan mendapat penurunan nada ganda akhir di progress ke-1 nya. 
Atau bila progres level nada suatu gugusan nada bass vokal ada di progress ke-1, dan jumlah instrumen vokal ada sebanyak 4 buah, maka dari jumlah instrumen vokal ini akan menentukan jumlah nada ganda yang dibuat untuk instrumen  trebel  maupun bass akan sebanyak maksimal 3 buah (triad) nada nada yang saling harmonis di timing permainan yang sama. Lalu instrumen  bass dari instrumen penentu dan bukan penentu akan memiliki komposisi nada ganda nada turunan akhir yang sama tinggi dengan  nada ganda nada turunan akhir instrumen trebel. Dengan kata lain,  komposisi nada ganda pada instrumen trebel dan instrumen bass belum mendapat penurunan nada ganda nada turunan akhir (nada ganda masih alami), penurunan nada ganda nada akhir baru akan terjadi di progress ke-2 nya. 
Bila dalam permainan musik orchestra ada memiliki 4 jenis instrumen vokalnya, ini akan mengakibatkan jumlah penggandaan nada yang diperbolehkan maksimal sebanyak 3 nada (triad). Bisa saja  dan   ini langkah yang  lebih baik bila  membuat jumlah penggandaan nada pada instrumen  bukan penentu sebanyak 2 buah nada (duplet)  yang saling harmonis, dan pada instrumen penentu sebanyak 3 buah nada (triad) yang saling harmonis, instrumen bukan penentu akan memiliki lebih sedikit kurang satu buah nada dibanding yang dimiliki instrumen penentu, tetapi instrumen bass maupun trebel tetaplah memiliki jumlah nada ganda yang sama.


Dalam menentukan kualitas progresi akord nada nada instrumen bukan penentu, dipakai rumus dalam menentukan banyaknya maksimal penggandaan nada di suatu gugusan nada suatu instrumen bass maupun trebel  yaitu:
            Pnd = (iV/2) 
dimana :
Pnd = maksimal banyaknya penggandaan nada pada progres vertikal gugusan nada instrumen bukan penentu di bass maupun trebel.
iV = jumlah instrumen Vokal yang digunakan dalam musik.

Sedangkan rumus dalam menentukan kualitas progresi akord nada nada instrumen penentu dalam menentukan banyaknya maksimal penggandaan nada di suatu gugusan nada bass maupun trebel  yaitu:
            Pd = (iV/2) + 1
dimana :
Pd = maksimal banyaknya penggandaan nada pada progres vertikal gugusan nada instrumen penentu  di bass maupun trebel.
iV = jumlah instrumen Vokal yang digunakan dalam musik.
Jika hasil Pnd max atau Pd max merupakan bilangan desimal atau pecahan, maka hasilnya dibulatkan ke bawah.
Dengan demikian didapat suatu persamaan matematis antara kualitas progressi akord nada-nada instrumen bukan penentu dengan instrumen penentu, yaitu:
Pd = Pnd + 1



Bersambung ...
Ke PEMAHAMAN PADA KUALITAS KOMPOSISI NADA NADA MUSIK ORCHESTRA

Artikel selanjutnya sudah pindah alamat url website:
http://www.PmdPooOrchestra.blogspot.com

Sabtu, 09 Mei 2020

Progressi Akord (Chord Progression)

SEKILAS MENGENAI PROGRESI AKOR, BUKAN SEKEDAR RUMUS MUSIK


Beberapa unsur dalam menciptakan sebuah lagu, salah satu nya adalah progresi akor.

Agar bisa menjadi sebuah akor yang "tonal", nada2 yang dimainkan secara
 dalam harmoni harus dalam interval yang "pas".

Interval sendiri adalah jarak antara nada yang satu dengan nada yang lainnya.

Jarak ini diukur dengan satuan tones dan semitones. 

Kalo gue jelasin tentang dua hal tersebut secara detail kalian pasti bakalan enek, karena penjelasannya benar-benar matematis.


Begini penjelasan sederhananya, jika kalian memiliki piano, perhatikan tuts nya, terdapat dua jenis tuts yaitu tuts hitam dan tuts putih.

Anggap lah kita berpatokan kepada nada C tengah di piano.

Jika kita menekan nada C dan tuts hitam yang berada di sebelah nada C (nada C#), maka jarak itu dihitung sebagai satu semitones.

Sedangkan kalo kita menekan nada C dan nada D (tuts putih disebelah nada C), maka jarak itu dihitung sebagai satu tones atau dua semitones. 


Progresi akor sendiri ga bisa lepas kaitannya dengan interval tangga nada dan akor itu sendiri.

Definisi sederhana dari sebuah akor adalah gabungan dari beberapa nada yang dimainkan secara bersamaan, sehingga menghasilkan harmoni.

Berikut ini adalah interval2 tersebut:

Nama jarak dalam interval (ukuran yang tertulis dalam satuan semitones)

Under Construction

Akor

Seperti yang dijelaskan dalam tabel tersebut, maka setiap interval jika dimainkan secara bersamaan akan menghasilkan dua nuansa yang berbeda, yaitu konsonan dan dissonan.


Jika dilihat dari tabel tersebut, misalnya jika ingin menghasilkan akor mayor dari C maka harus memainkan nada C(root), E(major third), dan G(Prefect Fifth)

Jika kita merangkai akor berdasarkan rumusan di atas, maka jika kita menyusun akor dari tangga nada C maka tingkatan akor yang didapat adalah:


1. Akor C mayor (C-E-G atau 1-3-5), merupakan tingkatan akor tonika (I).

2. Akor D minor (D-F-A atau 2-4-6), merupakan tingkatan akor super tonika (ii).

3. Akor E minor (E-G-B atau 3-5-7), merupakan tingakatan akor median(iii).

4. Akor F mayor (F-A-C atau 4-6-'1), merupakan tingkatan akor subdominan(IV).

5. Akor G mayor (G-B-D atau 5-7-'2), merupakan tingkatan akor dominan(V).

6. Akor A minor (A-C-E atau 6-'1-'3), merupakan tingkatan akor submedian(vi).

7. Akor B diminis (B-D-F atau 7-'2-'4), merupakan tingkatan akor leading tone/subtonika(viio).

Jika diperhatikan, jarak antara nada tersebut memiliki kesamaan yaitu berselang satu nada diantaranya (Simetris).

"Kualitas" Akor

Oh ya, gue seharusnya menjelaskan jenis akor berdasarkan 'kualitasnya'.

Di dalam susunan akor tadi, gue menyebutkan mayor dan minor.

Berdasarkan 'kualitas' nya, akor biasanya terbagi dalam 4 jenis utama, yaitu mayor, minor, diminis, dan augmented.

Akor mayor memiliki jarak interval tones masing-masing 2- 1 1/2. Akor ini memiliki nuansa umumnya ceria dan dominan.

Akor minor memiliki jarak interval tones masing-masing 1 1/2 - 2. Akor ini memiliki nuansa sedih dan meredup.

Akor diminis memiliki jarak interval tones masing-masing 1 1/2-1 1/2. Akor ini memiliki nuansa miris dan serasa sepert ada nada yang kurang.

Akor augmented memiliki jarak interval tones masing-masing 2-2. Akor ini memiliki nuansa janggal dan serasa ada nada yang berlebih.


Sekarang kita sudah lebih paham tentang 'kualitas' yang ada di dalam setiap akor.

Kadens, "Pungtuasi" dalam Musik


Penggunaan di dalam setiap akor itu sendiri tidak bisa asal-asalan.

Anggaplah progresi akor itu adalah sebuah 'kalimat', maka setiap awal 'kalimat' harus diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.


Maka di dalam progresi akor, harus diawali dengan akor I dan diakhiri dengan akor I juga.

Di dalam setiap kalimat juga tanda pungtuasi lainya yaitu koma, yaitu sebagai pemisah bagian didalam kalimat.

Di dalam progresi akor juga ada semacam tanda 'koma', yaitu akor IV dan V.

Akor I, IV, dan V merupakan akor standar yang pasti bisa 'nyambung' sama semua lagu.

Dalam sebuah progresi akor terdapat semacam 'hukum' bernama kadensa.

Kadens berarti alur akor yang sudah pasti di dalam sebuah akhir kalimat dalam lagu, dan bersifat resolutif.


Macam-macam dari kadens yang umum terjadi di dalam progresi akor dalam karya musik termasuk lagu pop antara lain:


1. Kadens otentik

Sebuah progresi akor dimana nuansa "selesai" nya sangat terasa, progresi akor nya berupa V-I
Kadens penuh


2. Kadens separuh
Progresi akor yang nuansanya seperti masih menggantung atau belum "selesai" sepenuhnya, berupa I-V atau ii-V atau dari akor mana saja yang berakhir di akor V.
Kadens separuh (half cadence)

3.Kadens Plagal
Progresi akor yang nuansa nya bisa "selesai" tetapi tidak terlalu tegas. Di dalam musik gereja progresi akor ini biasanya digunakan untuk mengiringi kata "amen" pada akhir sebuah pujian.
Biasanya berupa akor IV-I atau IV-iv-I. 



Sedangkan akor ii, vi, dan vii biasanya menjadi akor jembatan di dalam lagu, tergantung dari pergerakan nadanya.


Untuk prakteknya? silahkan kalian praktekin sendiri, karena bagaimana pun seseorang bisa "peka" dengan progresi akor tidak hanya karena paham teori, tetapi juga bisa merasakan pergerakan nada di dalam sebuah lagu.