Dapatkan Uang, klik link ini http://projects.id/uangberkah

Selasa, 21 September 2021

Gereja dan Misinya


Arti Kata Gereja. 

Kata gereja berasal dari kata bahasa Yunani “Ekklesia” yang didefinisikan sebagai “perkumpulan” atau “orang-orang yang dipanggil keluar.” Akar kata dari ”gereja” bukan berhubungan dengan gedung, namun dengan orang. 

Gereja bukanlah  menunjuk pada denominasi atau pada bangunan. Baca Roma 16:5: “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka...” Paulus menunjuk pada gereja di rumah mereka, bukan pada gedung gereja, namun kumpulan orang-orang percaya. Gereja adalah Tubuh Kristus. Efesus 1:22-23 mengatakan, “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Tubuh Kristus terdiri dari semua orang percaya mulai dari saat Pentakosta sampai saat Pengangkatan. Tubuh Kristus terdiri dari dua aspek: 

(1) Gereja universal/sedunia yaitu gereja yang terdiri dari semua orang yang memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. 1 Korintus 12:13-14 mengatakan “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” Kita melihat bahwa siapapun yang percaya adalah bagian dari tubuh Kristus. Gereja Tuhan yang sebenarnya bukanlah bangunan gereja atau denominasi tertentu. Gereja Tuhan yang universal/sedunia adalah semua orang yang telah menerima keselamatan melalui beriman di dalam Yesus Kristus. 

(2) Gereja lokal digambarkan dalam Galatia 1:1-2, “Dari Paulus, seorang rasul, ... dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia.” Di sini kita melihat bahwa di propinsi Galatia ada banyak gereja – apa yang kita sebut sebagai gereja lokal. Gereja Baptis, gereja Lutheran, gereja Katolik, dll bukanlah Gereja sebagaimana gereja universal, namun adalah gereja lokal. Gereja universal/sedunia terdiri dari mereka-mereka yang telah percaya pada Yesus untuk keselamatan mereka. Anggota-anggota gereja universal/sedunia ini sepatutnya mencari persekutuan dan pembinaan dalam gereja lokal. Secara ringkas, gereja bukanlah bangunan atau denominasi. Menurut Alkitab, gereja adalah Tubuh Kristus – setiap mereka yang telah menempatkan iman mereka pada Yesus Kristus untuk keselamatan (Yohanes 3:16; 1 Korintus 12:13). Dalam gereja-gereja lokal terdapat anggota-anggota dari gereja universal/sedunia (Tubuh Kristus). Gereja berasal dari bahasa Portugis: igreja, yang berasal dari bahasa Yunani: εκκλησία (ekklêsia) yang berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia dari kata kaleo= memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia memiliki beberapa arti:

Pertama, gereja ialah 'umat' atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukanlah sebuah gedung. Kedua, gereja adalah sebuah perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Bisa bertempat di rumah kediaman, lapangan, ruangan di hotel, maupun tempat rekreasi. Ketiga, gereja ialan mazhab (aliran) atau  denominasi dalam agama Kristen, misalnya gereja katolik, gereja protestasn, dan lain sebagainya. Keempat, gereja ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Contoh kalimat “Gereja menentang perang Irak”. Kelima, gereja secara umum ialah sebuah rumah ibadah umat Kristen, di mana di tempat tersebut umat melakukan ibadah kepada Tuhan yang disembahnya. Gereja (untuk arti yang pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus.

B. Landasan Alkitabiah tentang Sejarah Gereja dan Misi Dunia

Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, merupakan buku yang mengagumkan. Bukan hanya karena buku ini meliputi rencana keselamatan Allah bagi manusia berdosa, tetapi juga merupakan sumber sejarah suci tentang rencana dan karya Allah bagi gereja-Nya dan juga bagaimana misi-Nya dijalankan. 

1. Perjanjian Lama

Dalam upaya menyelusuri kata yang digunakan dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan umat Allah (gereja), maka ada beberapa kata yang dipakai untuk menyebut dan menunjuk kepada umat Allah. “Istilah “qahal” (qal, yang artinya “memanggil”) yang berarti “orang-orang yang dikumpulkan oleh karena panggilan Allah” (Keluaran 35:1; Bilangan 16:26; Ulangan 9:10). Istilah lain yang digunakan ialah, “edhah” (ya’adh, yang artinya “memilih” atau “menunjuk” atau “kumpul bersama-sama di satu tempat yang ditunjuk”). Istilah “edhah” mengacu kepada “perkumpulan di kalangan Yudaisme” atau “perkumpulan agama nasional (Yahudi) yang dimasuki orang karena kelahirannya” (Banding: Keluaran 12:3; Bilangan 16:9; 31:12) … Istilah “qahal” berbicara tentang “perhimpunan bersama suatu umat dalam ketaatan terhadap panggilan Allah,” dan “edhah” menjelaskan tentang “berkumpul karena sudah ada kesepakatan bersama”. 

Gereja dalam perspektif Perjanjian Lama dimulai dari pemilihan bangsa Israel oleh Allah sebagai umat kepunyaan-Nya. Pemilihan tersebut bukan didasarkan kepada lebih baiknya bangsa Israel dari bangsa-bangsa yang lain. Namun, pemilihan tersebut semata-mata karena otoritas, kuasa, kehendak dan kedaulatan penuh dari dalam diri Allah sendiri tanpa ada pengaruh dari luar diri-Nya. 

Berbicara mengenai bangsa Israel, Ulangan 7:7-9 memberitahu bahwa, “Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu—bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kau ketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.”

Berdasarkan firman Tuhan di atas, maka kita melihat bahwa: Pertama, kasih sebagai dasar utama pemilihan Allah atas bangsa Israel. Artinya, kasih Allah melampaui segala sesuatu yang menjadi keterbatasan, kekurangan dan kelemahan yang ada pada Israel sebagai individu dan juga sebagai suatu bangsa. Kedua, janji yang diikat pake sumpah antara Allah dan nenek moyang bangsa Israel. Artinya, Allah yang telah mengikat diri-Nya dengan leluhur bangsa Israel tidak akan mengingkari perjanjian itu. Dengan memilih bangsa Israel sebagai umat milik-Nya, Allah menepati janji-Nya. Ketiga, Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan raja Firaun pemimpin Mesir, membuktikan otoritas, kekuasaan dan kedaulatan pemilihan-Nya atas Israel. Keempat, semua itu dilakukan sebagi bukti otentik bahwa Allah itu setia, janji-Nya dapat dipercayai dan supaya Israel mengerti dan mengetahui bahwa mengasihi mereka.

Yakob Tomatala berkaitan dengan penyelamatan Allah atas Israel, mengatakan demikian: “Dalam Perjanjian Lama, dapat ditemukan adanya suatu model atau pola hidup umat Allah (Israel) yang memiliki kontinuitas dengan umat Perjanjian Baru (gereja). Modus hidup umat Allah dimaksud dapat diuraikan berikut ini:

a. Modus penyelamatan Allah.

Modus penyelamatan dari Allah bagi umat-Nya ini adalah landasan hakikat hidup dari umat-Nya. Modus penyelamatan dalam Perjanjian Lama ini sama dengan modus penyelamatan umat Allah pada Perjanjian Baru, yang ditandai oleh adanya “transformasi” yang membawa pembaharuan hidup.

b. Modus “Covenant”.

Kovenan dari Allah untuk umat Allah Perjanjian Lama dan umat Allah Perjanjian Baru yang intinya ialah”ketaatan” kepada-Nya, adalah sama. Modus covenant yang isinya mengandung pengakuan dari Allah kepada umat-Nya, dan ketaatan dari umat-Nya kepada-Nya dengan komitmen tinggi adalah bagian integral dari kehidupan umat Allah Perjanjian Lama yang memiliki hubungan yang berkontinuitas dengan umat Allah Perjanjian Baru (Banding: Lukas 16:16; Yohanes 4:23-25).

c. Modus “penikmatan berkat”.

Dalam penyelamatan Allah dapat ditemukan modus perjanjian berkat-Nya yang diteguhkan oleh penikmatan berkat (shalom seutuhnya). Penikmatan berkat adalah hak istimewa bagi umat Allah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Modus hidup penikmatan berkat ini bersifat utuh yang merupakan hakikat dan dimensi kehidupan umat Allah.” 

“Allah yang Maha Kuasa, telah membuktikan keperkasaan-Nya dalam membebaskan Israel, dan kenyataan pembebasan ini menempatkan Israel sebagai subordinator dalam perjanjian Allah itu. Jadi, sebagai yang utma, Allah bertanggung jawab seutuhnya atas “perjanjian” ini. Hal ini didukung oleh ikatan berkat … Di sini tugas dan fungsi Israel sebagai pelaksana merupakan sesuatu yang pasti dan tidak dapat ditawar; sesuatu tugas yang harus dilakukan sebagai perwujudan keberadaan Israel sebagai umat Allah”. 

Dalam kaitannya dengan sejarah gereja dan misi dunia, kita melihat bahwa Perjanjian Lama memainkan peranan yang penting dan strategis. Israel sebagai umat Allah dalam Perjanjian Lama memiliki tugas misional. Tugas misional ini pertama-tama dilakukan oleh para nabi. Di mana para nabi memiliki pekerjaan yang bersifata: “i) historical, yaitu yang berkenaan dengan sejarah. Dalam hal ini, para nabi menyatakan firman Allah di dalam sejarah dan Firman itu menjadi kenyataan sejarah. ii) eksistensial, yaitu yang berporos pada Allah sebagai kenyataan asasi. Di sini para nabi berbicara atas nama Allah, dan focus pelayannya menunjuk balik kepada Allah. iii) Prophetical, yaitu yang berkenaan dengan janji hari ini dan masa depan. Kenyataan yang ditekankan ialah bahwa kuasa dan kegenapan firman itu terlaksana untuk hari ini dan juga masa depan”.  

2. Perjanjian Baru

“Dalam Perjanjian Baru, “ekklesia” (ek artinya “keluar” dan kaleo artinya “memanggil”) diterjemahkan “dipanggil keluar dari sekumpulan orang-orang.” Kata “sunagoge” (sun artinya “bersama” dan ago artinya datang, berkumpul”) berarti “datang bersama” atau “berkumpul bersama”. Istilah Yunani lain yang dipakai ialah “kuriake oikia”  (kuriakos, berarti “TUHAN” dan oikos berarti “rumah”) yang artinya “rumah TUHAN”, yang dipakai dalam Perjanjian Baru secara khas.” 

Semua istilah yang dipaparkan di atas, baik istilah yang dipakai dalam Perjanjian Lama maupun istilah yang digunakan dalam Perjanjian Baru, menunjuk kepada keberadaan, perhimpunan, identitas dan jati diri umat Allah (gereja). Menurut Yakob Tomatala, penggunaan semua istilah tersebut, memiliki implikasi kepada umat Allah baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Implikasi dimaksud, yaitu:

a. Istilah-istilah dimaksud secara khusus dipakai untuk menunjuk kepada orang Yahudi dan orang Kristen yang memiliki hubungan dengan Allah yang sama, yang olehnya mereka disebut “umat Allah”.

b. Umat Allah ini adalah mereka yang telah dipanggil oleh Allah menjadi milik-Nya, di mana iman, kehidupan dan ibadah mereka menandakan akan hakikat diri mereka sebagai milik Allah.

c. Sebagai umat Allah, kesamaan hakikat sebagai milik Allah yang diteguhkan oleh “perjanjian berkat-Nya” (covenant) merupakan landasan bagi cara hidup umat-Nya yang harus diekspresikan dalam keberagaman konteks hidup di segala tempat.

d. Dalam hakikat dan cara hidup umat Allah tersirat tanggung jawab misional yang harus diwujudkan oleh mereka sebagai tanda keterikatan dengan Allahnya, dan bukti penikmatan berkat, dengan menjadi berkat membawa shalom kepada dunia.” 

Melalui semua penanda-buktian di atas, menjelaskan bahwa umat Allah memiliki legitimasi rohani. Legitimasi rohani itu diperoleh dari Tuhan. Sejarah gereja dan misi dunia telah mencatat bagaimana peran umat Allah dalam perubahan dunia pada masa lampau, masa kini dan juga memiliki prospek masa depan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar