Dapatkan Uang, klik link ini http://projects.id/uangberkah

Selasa, 18 Juli 2017

PENGUATAN PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK

PENGUATAN PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK
Oleh: SR.Pakpahan, SST




Keluarga adalah tempat berkumpulnya para anggota satu rumah tangga atau lebih yang masih satu keturunan biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak serta famili lainnya yang terikat dalam satu batin yang di dalamnya terdapat norma-norma hidup dasar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan untuk berlangsungnya keharmonisan dan kerukunan persaudaraan dalam rumah yang dihuni bersama, dan terjalinnya kasih persaudaraan sebagai refleksi dari resiprositas atau keterikatan memberi dan menerima tanpa mengharap balasan, dan saling bekerjasama untuk peningkatan SDM (sumber daya para anggotanya) guna untuk kemudahan/kepraktisan dan kemajuan hidup di dalam menghadapi pergumulan hidup pribadi lepas pribadi anggotanya.
Satu-satunya lembaga di dunia ini, lembaga yang menganut kerukunan hidup bersaudara bagi para anggotanya adalah lembaga KELUARGA. Para anggota keluarga dalam lembaga KELUARGA, tidak memiliki urutan posisi dan urutan yang sama dengan urutan kedudukan para anggota lembaga lain seperti lembaga sekuler, lembaga sosial masyarakat, lembaga keagamaan, lembaga pemerintahan atau lembaga apapun yang ada di dunia. Bila di lembaga lain (lembaga selain keluarga) menempatkan posisi pemegang jabatan kepala adalah di depan atau di sebelah kanan, tetapi pada KELUARGA (lembaga keluarga) menempatkan posisi kepala rumah tangga adalah di sebelah kiri atau di belakang, sedangkan para anggota keluarga lainnya seperti ibu, anak-anak dan famili lainnya adalah di sebelah kanan atau di depan. Urutannya adalah jelas dari sebelah kiri ke kanan atau dari belakang ke depan adalah sebagai berikut: AYAH (Kepala rumah tangga) – IBU – ANAK-ANAK – FAMILI LAINNYA.
Juga perlakuan bagi anak-anak dari yang sulung sampai bungsu dalam satu rumah tangga dari orang tua (ayah dan ibu) adalah tidak bisa di samakan. Bila dalam satu rumah tangga, si ayah/ibu memliki empat anak atau lebih, maka perlakuan bagi mereka adalah: dimulai dari Anak pertama (sulung) dulu, baru ke anak ketiga, baru ke anak kedua dan seterusnya hingga terakhir ke anak terakhir (bungsu), sementara ibu dan ayah adalah di atas semuanya. Hal ini dibuat sedemikian agar si anak kedua terpacu prestasinya bila melihat adiknya (anak nomor tiga) yang telah mendahuluinya.
Kedua hal di atas adalah pola terstruktur sebagai awal penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Kemajuan pendidikan anak membutuhkan peranan orang tua yang membimbing, mendidik, memberi ajaran dan memberi tanggung jawab kepada anak-anak mereka dengan ajaran yang benar sesuai ajaran Firman Tuhan. Sebagai Kesejahteraan Keluarga, ayah dan ibu harus terlebih dahulu yang menimbulkan IMAN bagi semua anggota keluarga, bahwa semua anggota keluarga memiliki iman kepercayaan kepada TUHAN ALLAH Sang Pencipta segala sesuatunya dan Sang Pelindung dan Penyelamat jiwa manusia umatNya. Patut kita teladani sikap dan pemikiran dari YOSUA sang penerus/pengganti kepemimpinan  Nabi Musa menghantarkan umat Israel eksodus dan memasuki tanah Kanaan. Yosua mengatakan dalam kitab Yosua 24:15 yang berbunyi ... Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Bukan hanya anak-anaknya saja yang akan memiliki iman kepercayaan pada Tuhan Allah, tetapi juga Yosua mengusahakan para hambanya (orang asing yang pembantu Yosua) juga turut memiliki iman kepercayaan pada Allah Pencipta alam semesta, Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub.
            Ketika dua anak kami dilahirkan ibunya, saya melihat anak kami yang baru lahir begitu manis dan lucu, pikiran saya timbul memikirkan bagaimana kelak harta warisan yang dapat saya beri pada mereka agar mereka di usia dewasa mendapat kebahagiaan hidup, padahal saya bukanlah seorang pengusaha yang memiliki harta banyak, karena itu di saat pertama kali saya melihat anak kami yang baru lahir, saya hanya dapat memberi warisan pertama yaitu kitab suci ALKITAB yang baru saya beli kemarin dari toko buku, ALKITAB itu saya letakkan di samping kepalanya dan berharap kelak anak kami di usianya yang berlanjut, ia dapat membaca dan mempelajari  isi dari pada ALKITAB, agar ia dapat menjadi manusia yang berahlak mulia, terpuji, memiliki kehormatan diri, memiliki kecerdasan berakal budi dan hidupnya berguna bagi Sorga Allah, bagi keluarganya, bagi negara dan bagi lingkungan negeri dan masyarakat Indonesia tercinta ini. 
Bila telah ditanamkan iman kepercayaan bagi anak-anak, langkah berikutnya adalah memberi Ilmu Pengetahuan yang benar dari sejak usia dini anak. Ilmu pengetahuan bagi anak dapat mereka terima didikan dan ajaran dari lembaga RUMAH TANGGA/KELUARGA dan atau dari lembaga pendidikan resmi (SEKOLAH dan KURSUS-KURSUS). Dalam pemberian ilmu pengetahuan bagi anak ini dilakukan melalui proses pembelajaran dan pelatihan baik di rumah maupun di sekolah/kursus, pembelajaran diupayakan untuk merubah si anak dari tidak tahu menjadi tahu sesuatu ilmu yang ia pelajari, dan proses pembelajaran ini akan terus berlangsung seumur hidup sampai selama-lamanya. Pelatihan diberikan bagi anak agar ia dapat menyesuaikan pengetahuannya yang dimilikinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah mengalami pembaruan. Keduanya baik pembelajaran maupun pelatihan akan dapat menjadi sarana bagi perkembangan dan perubahan karakter anak menjadi lebih baik dan unggul. Sesuai dengan bakat, minat dan talenta yang dimiliki anak, hasil pembelajaran dan pelatihan yang didapat anak dari kedua lembaga tersebut harus dapat meningkatkan karakter anak yang berkembang terus mengarah ke menyerupai karakter Allah, dan juga si anak dapat berkarya dan cerdas berkreasi menghasilkan karya yang gemilang berkembang terus seiring bertambahnya usianya, karyanya dapat meniru/menyerupai karya cipta Allah akan alam semesta yang berguna bagi kehidupan dan kelangsungan hidup seluruh mahluk di jagad raya. Karakter dan Karya Cipta/Kreasi hebat yang anak  miliki harus dapat dirasakan dan berguna bagi orang/lembaga lain dan membuat hidup lebih praktis (berguna bagi kepraktisan hidup) manusia.
Adapun karakter yang ditanamkan dalam diri anak oleh orang tua di rumah maupun oleh para guru di sekolah adalah berupa menyerupai 14 (empat belas) Karakter Utama Allah yang dapat ditemui tertulis di Kitab Suci, yaitu: Spiritual (Roh), Love (Cinta Kasih), Truth (Benar), Righteous (Membenarkan), Holy (Kudus/Suci), Perfect (Sempurna), Good (Baik), Just (Hanya), Pure (Murni), Unchanging (Tidak berubah), Stands Forever (Selamanya tegak), The Way (Sebagai jalan), Great (Besar), dan Cleanses (Membersihkan/menjelaskan). Ke-empat belas karakter yang menyerupai karkater Allah itu, dijelaskan lebih rinci sesuai nats kitab suci sebagai berikut:
1.    Spiritual (Roh)
Yohanes 4:24, Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran.
2.    Love (Cinta Kasih)
1 Yohanes 4:8, Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih
3.    Truth (Benar)
Yohanes 14:6, Kata Yesus kepadanya “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.
4.    Righteous (Membenarkan)
1 Korintus 1:30, Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi Hikmat bagi kita, Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
5.    Holy (Kudus/Suci))
Yesaya 6:3, Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya”.
6.    Perfect (Sempurna)
Mateus 5:48, Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna.
7.    Good (Baik)
Lukas 18:19, Jawab Yesus: “Mengapa kamu katakan Aku baik?, tak seorangpun yang baik selain daripada Allah Bapa”.
8.    Just (Hanya)
Ulangan 32:4, Gunung batu, yang pekerjaanNya sempurna, karena segala jalanNya adil,, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.
9.    Pure (Murni)
1 Yohanes 3:3, Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah Suci.
10. Unchanging (Tidak berubah)
Yakobus 1:17, Setiap pemberian yang baik, dan setiap anugrah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala Terang, padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
11.  Stands Forever (Selamanya tegak)
Mazmur 90:2, Sebelum gunug-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.
12.  The Way (Sebagai jalan)
Yohanes 14:6, Kata Yesus kepadanya “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.
13. Great (Besar)
Mazmur 48:1, Nyanyian Mazmur bani Korah, Besarlah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita.
14. Cleanses (Membersihkan/membereskan)
Mateus 8:3, Lalu Yesus mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir’, seketika itu juga tahirlah orang itu daripada kustanya.
Mazmur 57:3, Aku berseru kepada Allah yang Maha Tinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.
Seorang anak yang telah dewasa pemikirannya dalam menelaah sesuatu hal dari segi displin ilmu, ia tidak perlu menghafal segala seluk beluk pelajaran yang ia pelajari, ia tidak perlu memiliki pemikiran seperti seorang profesor, seribu orang profesor tidaklah berguna bagi kehidupan, dibanding dengan seorang yang berakal budi dan berahlak mulia, suka mencari Allah dan HikmatNya. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci Alkitab (Mazmur), seorang anak yang berakal budi dan pandai, ia berdiam diri dan tidak kasak-kusuk. Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai adalah berakal budi. Orang yang berakal budi dan orang yang mempunyai hikmat pengetahuan adalah orang yang mendengarkan pengetahuan, didikan dan ajaran. Orang yang berakal budi bagaikan ladang/kebun yang luas dan rimbun, sedangkan orang pemalas bagaikan ladang yang tandus. Akal budi adalah sumber pengetahuan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh adalah kebodohannya. Orang yang berakal budi menimbulkan kepujian dalam hidup, tetapi orang yang serong hatinya menimbulkan kehinaan. Bibir orang benar mengajar dan mendidik banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung  orang yang tidak berakal budi.
Allah-lah yang memberi kepada kita juga kepada anak-anak kita akal budi, sehingga kita dan anak-anak  melebihi binatang di bumi dan Allah-lah yang memberi hikmat sehingga kita dan anak-anak kita melebihi burung di udara. Sudah sepantasnya pada anak-anak kita berikan ajaran pengetahuan yang benar tentang karakter dan karya cipta Allah. Sebuah pengetahuan tentang karakter Allah dan karya ciptaNya adalah dasar dari segala pendidikan yang benar dan dasar dari segala pemberdayaan yang benar. Jenis pendidikan dan pemberdayaan ini adalah satu-satunya penjagaan dan perlindungan yang nyata  dari setiap godaan dan pencobaan yang datang untuk merongrong diri manusia. 
Ilmu pengetahuan yang benar yang tertinggi dalam hidup di dunia ini adalah ilmu pengetahuan tentang keselamatan jiwa (ilmu SKS = Soul Keep Saving), ilmu ini perlu kita ajarkan kepada anak. Pengetahuan keselamatan jiwa  dapat diperoleh dengan cara mempelajari Sabda Firman Tuhan dan dari ajaran Kasih Allah, prinsip-prinsip kebenaran kasih Tuhan dan penyelamatanNya ada dalam kitab suci. Dari kitab suci, si anak dapat memperoleh pengetahuan hikmat murni hikmat yang mengalir dari tahta Sorga Allah. Ilmu keselamatan jiwa yang dipelajari anak, tidak akan pernah berhenti atau selesai, ilmu keselamatan jiwa akan terus dipelajari dan tidak habis-habisnya sampai selama-lamanya, sebab ilmu tersebut mengandung ajaran keselamatan jiwa yang menghantar anak ketujuan pasti ke praktisan hidupnya, kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya dimasa sekarang ini maupun dimasa yang akan datang.
Dengan anak mempelajari ilmu keselamatan jiwa atau Sabda Firman Tuhan, diri anak akan bersemangat menjalani rutinitas hidupnya dan anak akan dapat memetik buah pohon kehidupan dan memakannya sepuas-puasnya (bukan pohon pengetahuan). Si anak akan merasa selalu ada jalan keluar dan terbuka dikala ada masalah atau jalan yang tertutup, harapan pertolongan dari Tuhan pun akan datang dengan segera sesuai arah menuju kepada Sorga Allah, pertolongan dan jalan itu adalah melalui Kasih dan Penyelamatan Tuhan.
Mari kita mengarahkan anak kita agar mau untuk diajar oleh Allah Sang Pencipta langit dan bumi, pengetahuan yang diajar oleh Allah akan memberi capaian perkembangan kekuatan mental yang tertinggi, pencapaian ini bermanfaat untuk menghormati Allah dan untuk kebaikan hidup anak di masa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Sebuah pelatihan pengupayaan praktis hidup jauh lebih berharga daripada sejumlah mata pelajaran di sekolah maupun pelajaran umum lainnya, pendidikan keselamatan jiwa jauh lebih penting dari sekedar pembelajaran buku-buku ilmu pengetahuan, bahkan dari pengetahuan tentang dunia antariksa jagad raya sekalipun. Untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang karakter Allah dan karya ciptaNya, si anak harus mempelajari Sabda Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan itu di siang dan malam hari. Akan berbahagialah anak yang kesukaannya adalah Firman Tuhan dan yang merenungkan Firman Tuhan itu siang dan malam, inilah titik berat kuasa massa pembelajaran ilmu keselamatan jiwa. Kristalisasi pengetahuan keselamatan jiwa itu, si anak harus memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan yang benar bagi kepraktisan hidupnya dan bagi hidup orang lain, dan mampu memberi teladan bagi orang lain (temannya) juga, agar si anak lebih berhikmat dan berakal budi lagi.
Semua prasarana, sarana, fasilitas, modal, daya upaya yang ada, dipakai untuk usaha mendapatkan pengetahuan yang benar tentang karakter Allah dan Karya ciptaNya. Tanamkan pada diri anak pola kebiasaan hidup yang benar, berteori yang benar, konsep dan metode yang benar, praktek hidup yang benar, dan prinsip-prinsip hidup yang benar, agar si anak tidak akan kehilangan kekuatan penghargaan diri, mental, kontrol diri, dan tujuan hidup yang menyangkut dirinya. Bila mengabaikan semua itu, maka berarti kehancuran bagi diri anak, ia akan kehilangan dunianya sekarang ini maupun dunianya yang akan datang. Bila seorang anak tahu dan mengerti kegagalannya dan kelemahannya sendiri, lalu ia introspeksi diri mendekat dan berserah diri pada Allah, maka ia akan menemukan kekuatannya pada Allah dan kesuksesan atau prestasinya akan dinyatakan kelak. Jika si anak kita usahakan ia untuk mau di ajar oleh Allah, kelak si anak dewasa akan menjadi bijaksana dalam kebijaksanaanNya Tuhan dan hidupnya akan berbuah banyak, menjadi saluran berkat bagi dunia juga bagi orang lain, dan  ia akan memperkaya khasanah kehidupan.
Profil Anak Indonesia
Sebanyak 33% masyarakat Indonesia adalah anak (usia 0-18 tahun), karenanya pelayanan kepada anak adalah sesuatu upaya yang sangat strategis dan dapat membawa dampak signifikan bagi pembangunan bangsa secara umum, akses lembaga pendidikan dan kesaksian lembaga keagamaan secara khusus. Berikut ini Profil anak Indonesia disajikan dari berbagai sumber:
Semua anak (usia 0-18 tahun) adalah anak berisiko yaitu anak yang kebutuhan fisik, psikososial dan spiritualnya tidak terpenuhi secara memadai oleh karena terhambat dalam kondisi spesifik sehingga kehilangan kesempatan untuk bertumbuh kembang secara sehat dan mencapai potensi maksimal (dirangkum dari pandangan pemerhati anak: Dwidjo Saputro, Eddy Sianipar & Irwanto, 2010)
            Permasalahan anak bukan hanya sebatas permasalahan rumah tangga atau lembaga pendidikan atau lembaga keagamaan saja, melainkan juga permasalahan masa depan bangsa yang untuknya semua lembaga di Indonesia perlu bergandengan tangan dalam memberi jawaban, menjadikan anak sebagai solusi masa depan bangsa. Artinya lembaga manapun dimasa kini seyogyanya melihat anak adalah dalam konteks luas, anak yang di tengah masyarakat, anak yang mempunyai kebutuhan mental, spiritual, maupun anak yang mempunyai kebutuhan sosial dan jasmani.
            Dalam perkembangannya, kategori anak berisiko yang digunakan mengacu kepada UU No.35/2014 tentang perubahan UU Perlindungan Anak No. 23 /2002, yaitu:
a) Anak dalam situasi darurat;
b) Anak yang berhadapan dengan hukum;
c) Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi;
d) Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual;
e) Anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
f)  Anak yang menjadi korban pornografi;
g) Anak dengan HIV/AIDS;
h) Anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan;
i)  Anak korban Kekerasan fisik dan/atau psikis;
j)  Anak korban kejahatan seksual;
k) Anak korban jaringan terorisme;
l)  Anak Penyandang Disabilitas;
m) Anak korban perlakuan salah dan penelantaran;
n) Anak dengan perilaku sosial menyimpang;
o) Anak yang menjadi korban stigmatisasi dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya.
Akan sangat baik pula jika orang tua bisa memilih Sekolah atau Kursus-kursus bagi anak-anaknya untuk menggali ilmu pengetahuan dari lembaga pendidikan tersebut yang memiliki kurikulum yang mantap dan bermutu, demi peningkatan kecerdasan dan karakter anak di masa sekarang ini dan di masa yang akan datang. Masih banyak lembaga pendidikan sekolah yang belum memiliki kurikulum pendidikan yang memuat pengajaran tentang penghitungan Indeks dalam matematika, pengajaran tentang menggambar dengan memakai program applikasi Corel Draw, pengajaran tentang seluk beluk audio dan media, pengajaran jarimatika atau operasi hitungan matematika dengan jari-jari tangan, pengajaran tentang pembentukan karakter unggul melalui pelajaran ilmu keselamatan jiwa, dan lain-lainnya yang sangat berguna bagi pengembangan kecerdasan dan karakter anak didik. Untuk itu perkembangan dan kemajuan kecerdasan dan karkater anak, diperlukan sekolah/kursus pendidikan anak yang aman, bersih dan sehat, peduli lingkungan hidup dan berbudaya, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan (Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 8 / 2014).
Untuk memenuhi pendidkan anak itu, dalam kurikulum yang mantap dan bermutu, perlu disusun suatu Pedoman Perlindungan Anak di Sekolah yang nantinya bisa digunakan oleh Majelis Pendidikan Sekolah (MPS), Majelis Nasional Pendidikan Sekolah (MNPS) pada sekolah-sekolah yang diwadahi. Upaya inipun perlu didukung oleh Pendanaan dan Jaringan/Partnership, kerap mengumpulkan materi, menyortir bahan ajar dan ke depannya akan meminta masukan dari para pakar pendidikan. Membuat kuesioner dan dikirimkan kepada orang tua untuk mendapatkan masukan tentang materi pendidikan anak yang mantap dan berkualitas di sekolah.
            Hal yang sama akan sangat baik jika para pendidik bisa mendarah daging menyadari pentingnya kurikulum pendidikan yang mantap dan bermutu bagi anak didik. Komponen-komponen seperti budaya, lingkungan hidup, hak anak, PA (perlindungan anak), partisipasi, mekanisme pengaduan sudah harus terpatri dalam pikiran dan jiwa para pelaku pendidikan. Harus bisa menyuarakan, termasuk tentang nilai/martabat anak dalam Sorotan Firman Tuhan. 
Masalah Kecanduan Anak Terhadap Kegiatan yang Merangsang
            Para anak/remaja saat ini banyak menghadapi tantangan-tantangan yang tidak sama dihadapi generasi sebelumnya, munculnya internet telah membuat anak menghabiskan waktunya hanya di depan komputer, masalahnya adalah anak melalaikan tugasnya di rumah maupun tugas PR dari sekolah, dengan anak membuka internet dan apalagi menonton film porno dapat mengubah sistem otak anak bila rutin menontonnya.
            Dampak-dampak negatif kemajuan teknologi seperti internet adalah masalah bagi anak/remaja, bila dampak negatif ini tidak di atasi maka anak akan berpotensi melakukan kebiasaan-kebiasaan adiktif dan kegiatan yang merangsang, seperti kecanduan menonton pornografi. Efeknya akan merubah sistem otak anak sehingga anak malas, tidak berprestasi dan nakal/melawan orang tua dan guru.
            Otak anak paling sensitif untuk belajar mengenal dan ingin mengetahui sesuatu hal yang di dekatnya sekitar sampai usia anak 12 tahun, otak anak akan maksimal memberi akal pengetahuan bagi anak sehingga ke-pengetahuan (datangnya hikmat) anak akan hadir saat anak berusia 12 tahun. Bila berlanjut ke usia remaja sekitar usia 15 tahun, otak anak akan paling sensitif terhadap dopamin (dopamin adalah pemancar zat neuro yang merupakan pendorong kita untuk mendapatkan penghargaan pribadi) sehingga otak remaja sangat rentan terhadap pembangunan sistem baru, karena otak belum selesai berkembang.
            Pada akhirnya masalah anak bukanlah hal sekedar nakal atau malas, tapi masalah yang sebenarnya adalah kecanduan anak terhadap kegiatan yang merangsang dan melakukan kebiasaan adiktif yang merupakan kecanduan yang negatif dan tidak masuk akal yang dapat mempengaruhi ketidak mampuan anak untuk mencintai dan di cintai orang lain. Para anak yang melakukan kegiatan adiktif memberikan pelarian dan tekanan, stres dan bahkan kebosanan dari kehidupan sehari-hari, keluar dari kenyataan. Ini adalah bahaya yang sesungguhnya dari kecanduan apapun. Para orang tua harus membekali anak-anaknya untuk mengetahui bagaimana menangani stres dengan cara-cara yang membangun, para remaja akan cenderung tidak mencari penopang pelarian emosional untuk mengatasi tekanan dari kehidupan normal sehari-hari.
            Pekerjaan yang paling penting di dunia adalah menjadi orang tua. Orang tua bertanggung jawab terhadap pembentukan kecerdasan dan karakter anak-anaknya. Adalah penting bagi orang tua untuk membekali anak bagaimana mengatasi stres dengan cara-cara yang membangun. Dan melatih anak untuk dapat bersyukur atas kesenangan-kesenangan dan berkat yang dia peroleh di kehidupannya sehari-hari. Rasa bersyukur adalah suatu respon terhadap adanya cinta yang anak rasakan/terima dari orang lain (orang tua maupun saudaranya atau temannya)
            Berikut ada 8 (delapan) cara untuk membentuk karakter unggul seorang anak, sebagai cara  penjagaan dan perlindungan yang nyata  dari setiap godaan dan pencobaan yang datang untuk merongrong diri anak, sebagai berikut:
1.  Bekali anak dengan Pengetahuan yang benar, hubungan anak dengan orang tua yang membuat diri anak sehat dan penuh kasih.
Anak-anak yang melihat orang tua mereka saling mengasihi dan menghormati dalam kehidupan nyata, akan dapat membuat diri anak bertumbuh sehat dan penuh kasih, sebuah dasar telah diletakkan untuk harapan-harapan yang realitas dan sehat di dalam kehidupan anak. Seorang ayah yang menonjolkan keindahan sejati adalah dengan menemani istrinya di dalam rumah. Diperlukan banyak ajaran kasih antara ayah dan ibu dan mengajari anak-anak pandangan tentang kasih berdasarkan Firman Tuhan. Anak-anak perlu melihat hubungan ayah dan ibunya yang harmonis penuh cinta kasih sayang. Seorang ayah dapat memberikan sebuah pesan yang jelas tentang keindahan dan apa yang membuat anak tertarik. Duduk bersama di ruang keluarga, membahas sesuatu hal secara bersama, peduli kekurangan orang lain, membersihkan rumah secara bersama adalah contoh-contoh yang indah tentang siapa yang memiliki kasih dan apa yang berharga dari kasih itu.
2.  Lingkungan rumah yang sehat.
Semua bentuk kecanduan terhadap kegiatan yang merangsang dan tindakan-tindakan adiktif adalah metode-metode untuk melarikan diri. Pastikan rumah kita adalah tempat perlindungan yang nyaman dari dunia luar/asing, dimana cinta, kehangatan, dukungan dan penerimaan kritik yang bebas selalu diberikan kepada anak-anak. Memuji seorang anak, bukan karena hasil akhir yang ia peroleh, tetapi memuji seorang anak karena tekad usaha dan kerja kerasnya yang ia lakukan, akan mengembangkan kepuasan dalam kerja keras di dalam diri anak, pada akhirnya ini akan membuat anak maju dan berkembang mencapai kesuksesan. Ketika seorang anak dipuji karena kerja kerasnya dan karena upayanya dalam mencapai sesuatu, akan terbentuk sebuah karakter anak yang menemukan kepuasan dan kenikmatan dalam kerja keras. Kemudian, ketika stres dan tantangan, atau pencobaan datang, kemungkinan anak tidak lagi beralih kepada penolong-penolong emosional dari tindakan-tindakan adiktif yang merusak diri anak. Tetapi jika anak merasakan rumah tidak lagi sebagai tempat yang hangat, ramah dan menggembirakan, maka anak akan tertarik untuk mencari perlindungan di luar/tempat lain. Dan hal-hal negatif dari tempat kegelapan adalah pelarian yang mudah.
            Rumah seharusnya menjadi tempat pelarian, bukan sebaliknya ditinggal lari. Dalam kerangka rumah tangga sebagai tempat perlindungan, seorang anak harus diajarkan teknik-teknik yang sehat dan cara-cara yang membangun untuk mengatasi stres, Teknik-teknik yang beragam ini dimulai dari tidur yang cukup dan berkualitas, diet sehat atau makanan bergizi dan seimbang, belajar rajin, olah raga teratur, serta berdoa dan percaya kepada kekuatan Tuhan.
3.  Ajarkan kepada anak pentingnya menahan/menolak godaaan
Budaya kerja bagi anak yang sudah bekerja atau budaya belajar bagi anak yang masih sekolah sangat besar pengaruhnya bagi kemajuan anak, Budaya “Belajar sekarang, bermain kemudian (jika tidak ada lagi tugas PR yang harus dikerjakan)” adalah baik ditanamkan bagi pertumbuhan karakter anak, dan menghindari budaya instan/budaya “Bermain sekarang, belajar kemudian”.
Adalah sangat penting bagi pengembangan karakter anak untuk menanamkan prinsip menolak godaan. Pengaruh negatif ada tersedia di internet yang mengakses ke dunia maya sangat mudah, Pengaruh negatif ada tersedia dalam pergaulan bebas/tidak benar, bila dibanding dengan mengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan pribadi di dunia nyata yang baik. Kegiatan yang merangsang atau tindakan adiktif membuat anak mendapat kepuasan yang semu, anak akan tumbuh menjadi seorang yang lebih mudah menemukan kesenangan untuk dirinya sendiri, daripada memberi cinta dan perhatian kepada orang lain dan daripada merespon cinta yang tulus dari orang lain yang ia terima.
Menahan godaan adalah sebuah prinsip yang diajarkan di masa kanak-kanak saat seorang anak diajar untuk taat ketika ibu atau ayah berkata “Tidak”. Anak-anak yang diberikan segala sesuatu yang mereka minta akan mengembangkan karakter-karakter yang selalu berharap semua keinginan mereka di kabulkan. Terlalu banyak orang tua mengalihkan perhatian anak di tahun-tahun awal masa kanak-kanak anak adalah “mengalihkan perhatian” seorang anak, bukannya mengajarkan anak untuk belajar. Kata “Tidak” adalah salah satu cara yang paling berbahaya bagi orang tua untuk membesarkan seorang anak, ini secara aktif mengajarkan kepuasan semu/instan. “saya tidak ingin anak memiliki ini, jadi saya akan membujuk anak dengan sesuatu yang ia temukan bahkan lebih menarik dan diinginkannya”, ini tidak mengembangkan kekuatan karakter pada anak, ini hanya akan meneguhkan keyakinan bahwa ia dapat memiliki apapun yang ia inginkan. Selanjutnya anak akan mengalihkan perhatian dan dengan mudah merasa bosan. Seorang anak yang dibiarkan menikmati kepuasan semu/instan, merasa bosan dengan segala sesuatu yang membutuhkan komitmen dan kerja keras, anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang berpuas diri yang hanya mencari kepuasan semu di semua sisi hidupnya.
4.  Ajarkan anak bahwa setiap tindakan memiliki konsekwensi
Seorang anak yang tidak pernah diberi tanggung jawab atas apa yang dia lakukan adalah salah, anak akan tumbuh menjadi seoraang dewasa yang tahu bagimana melarikan diri dari hal apa pun, termasuk berbohong, dan bahkan menyalahkan orang lain karena tindakannya yang adiktif. Hal ini akan memberikan dampak bagi setiap sisi lain dari hidup si anak, termasuk kehidupan rohaninya.
Ketaatan diajarkan kepada anak pada masa bayi, anak harus diajar untuk taat saat pertama kalinya mereka disuruh melakukan sesuatu dengan nada suara yang menyenangkan. Jika tidak bisa, anak secara aktif diajarkan untuk bebas dengan ketidak taatannya sampai Ayah berteriak atau Ibu menghitung “dua-tiga-perempat” baru si anak mau taat.
Anak-anak yang diajarkan batas-batas yang jelas dan wajar dan yang tahu bahwa mereka dicintai, adalah anak-anak yang bahagia dan aman, Seorang anak manja yang tidak pernah bertanggung jawab karena melakukan hal yang salah akan tumbuh dengan pikiran bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum (termasuk hukum-hukum Allah) tidak berlaku baginya. Sikap mental seperti itu adalah undangan terbuka bagi anak untuk bertindak adiktif dan berbuat kegiatan yang merangsang.
5.  Secara aktif tanamkan nilai yang diinginkan dari anak.
Membesarkan anak diibaratkan dengan berkebun bunga dan buah-buahan, usaha-usaha yang melelahkan bersumber dari rumput-rumput liar yang tidak sedap dipandang, yang dengan berani membesarkan kepala jeleknya di tanah hati anak yang subur. Masalahnya adalah jika semua usaha yang dilakukan orang tua adalah rumput liar, hanya akan berakhir dengan sebidang tanah kotor yang tidak subur. Untuk berkebun yang indah dan produktif, bukan hanya sekedar menyiangi, tapi juga mengelolanya dengan keindahan kebun yang memiliki berbagai macam bunga, sehingga penampakan yang indah dan aroma yang wangi menarik perhatian kupu-kupu dan burung-burung. Sebuah kebun yang produktif juga akan memiliki buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan untuk dapat digunakan sebagai makanan. Namun, memiliki lebih dari sekedar sebidang tanah kotor yang tidak subur, membutuhkan kerja keras dan perencanaan dan secara aktif menanamkan apa yang orang tua inginkan dari anak dan kemudian memelihara apa yang telah ditanam tersebut.
Orang tua yang memiliki anak usia 18 tahun, cenderung menginginkan anaknya menjadi anak yang sopan, menghormati orang lain, pekerja keras, baik terhadap orang lain, melindungi orang-orang yang lebih kecil yang lebih lemah dari dirinya. Untuk itu orang tua perlu mulai menanamkan hal-hal tersebut di dalam karakter anak mulai dari usia dini anak dan secara aktif mengasuh mereka saat mereka bertumbuh.
6.  Memiliki “Percakapan jujur” dengan anak
Kejujuran adalah awal untuk mendapatkan belas kasih. Jangan pernah berbohong kepada anak, biarkan anak bertumbuh dengan mengetahui bahwa mereka dapat selalu datang kepada orang tuanya untuk memperoleh suatu “Kebenaran”. Jika ada sesuatu yang belum bisa diketahui diusia mereka, orang tua dapat memberi tahu mereka bahwa pertanyaan itu akan dijawab pada ketika usia anak sudah tepat untuk mengetahuinya.
Menolak untuk menjawab pertanyaan anak adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dan akan menghancurkan kepercayaan anak pada orang tua. Bila membahas suatu hal, mulaiah dengan percakapan terbuka yang sesuai usia anak. Jika anak tidak mendapatkan informasi benar dari orang tuanya, mereka akan mendapatkannya dari teman-temannya dan yang pasti ini bukan sumber yang aman untuk  belajar nilai-nilai agama/rohani. Berbicara secara jujur kepada anak, orang tua ingin anak-anak mereka belajar nilai-nilai hidup benar dari orang tuanya, bukan dari teman-temannya.
Dengan membentuk komunikasi terbuka, jelaskan pada anak yang sedang bertumbuh tentang bahaya-bahaya tindakan adiktif dan kegiatan-kegiatan yang merangsang seperti melihat pornografi. Beritahukan kepada anak tentang bahya pornografi, jelaskan bahwa cara terbaik untuk menghindari kecanduan negatif tersebut adalah dengan berkata “jangan pernah mencobanya sejak awal”
7.  Menerapkan pernyataan “Komitmen” pada anak
Orang tua dapat menerapkan beberapa pernyataan komitmen pada anak, seperti berikut:
Komitmen Pertama: Saya (anak) memahami bahwa tindakan adiktif dan kegiatan-kegiatan merangsang adalah dosa yang dapat menghancurkan harapan dan masa depan saya.
Komitmen kedua: Saya (anak) terbuka kepada Allah dan akan terbuka kepada orang tua saya atas apa yang saya masukkan ke dalam pikiran saya melalui buku-buku, film, internet, dan apa yang saya dengarkan.
            Sebagai orang tua, sudah seharusnya bertugas untuk memantau hiburan anak, jika ini tidak dilakukan, orang tua tidak akan tahu apa yang sedang mempengaruhi anak. Konsekwensi-konsekwensi jangka panjang karena mengabaikan peran sebagai orang tua ketika anak masih remaja dapat membuat dia kehilangan pekerjaan, kehilangan pernikahan, dan kehidupannya sangat tidak bahagia serta tidak berkualitas ketika anak mencapai usia dewasa. Kebiasaan-kebiasaan yang baik diajarkan pada masa kecil anak, sebab baik atau jahat, akan tetap bersama mempengaruhi diri anak sepanjang umurnya.
8.  Mengajarkan anak tentang pengendalian diri
Dari senua prinsip pembentukan karakter yang ada disini, prinsip pengendalian diri adalah hal yang paling penting. Seorang anak yang diajarkan pengendalian diri akan tumbuh menjadi seorang dewasa yang meletakkan hukum Allah di atas keinginan pribadi, dan kewajiban di atas kepuasan pribadi. Anak yang tidak diajarkan pengendalian diri pada masa kecil akan dipaksakan kepada mereka ketika mereka lebih tua dengan paksaan-paksaan dari luar.
Seorang anak remaja yang kurang pengendalian diri dalam hal belajar dengan tekun, akan menerima nilai rapor lebih rendah, dan kemudian memiliki peluang-peluang lebih sedikit di terima dalam lapangan pekerjaan. Seorang anak dewasa yang kurang pengendalian diri dalam hal melakukan pekerjaan, tidak akan mendapat promosi dalam pekerjaannya atau ia akan langsung dipecat. Hal terburuk, seorang anak dewasa yang tidak memiliki pengendalian diri akan berakhir di penjara, negara memaksa pengendalian diri yang ia kurang miliki dengan menghapus kebebasannya dan memenjarakan dia.
Pengendalian diri anak dimulai dari bayi di pelukan ibunya. Bayi yang berusia 18 bulan (1½ tahun) yang dibiarkan melempar dengan marah marah dan berteriak dan menendang, sedang diajarkan kurangnya pengendalian diri dari awal. Seorang anak berusia 8 tahun yang dibiarkan kasar kepada saudara-saudaranya ketika ia sakit dan tidak enak badan, sedang diajarkan kurangnya pengendalian diri sejak awal. Seorang anak berusia 14 tahun yang dibiarkan menaikkan nada suaranya dan berteriak ketika marah, sedang diajarkan kurangnya pengendalian diri dari awal.
Siapapun bisa berteriak ketika marah. Seseorang tidak memerlukan kekuatan karakter saat kehilangan kendali. Namun, diperlukan pengendalian diri yang sangat besar dan karakter yang kuat untuk mempertahankan ketenangan dan pengendalian diri ketika terprovokasi.
Gagal dalam mengajarkan pengendalian diri adalah salah satu tindakan yang sangat merugikan yang dapat dilakukan orang tua pada anak. Ini terbawa sampai ke dalam setiap bagian kehidupan, termasuk kehidupan rohani. Menyerahkan kehendak kepada Allah, menolak untuk memanjakan diri dalam perbuatan dosa ketika anda benar-benar menginginkannya, membutuhkan kekuatan karakter yang hanya berasal dari pengendalian diri.
Para orang tua yang tidak melatih anak-anaknya untuk mengendalikan diri, melakukan tindakan yang sangat merugikan bagi anak-anaknya tersebut yang kelak akan membayar harga tinggi di kemudian hari.
Mungkin anda tidak memiliki kekuatan untuk mengatasi godaan pada diri anda sendiri. Kita semua memiliki bagian yang membutuhkan bantuan ilahi untuk mengatasinya. Tetapi itu membutuhkan perilaku pengendalian diri dengan memilih untuk datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan ketika tergoda, daripada menyerah pada godaan yang datang.
Dosa selalu pertama kali dimulai dalam pikiran. Itu terpendam dalam imajinasi. Kemudian, ketika kesempatan datang, godaan di luar bertemu dengan kerusakan di dalam dan orang tersebut jatuh ke dalam dosa. Ini bisa terjadi karena kurangnya pengendalian diri.
Salah satu pekerjaan terbesar orang tua adalah  menanamkan pada anak-anak prinsip-prinsip pengendalian diri. Anak tidak pernah bisa mencapai sosok seorang pria sejati di dalam Allah selama ia diperbudak oleh keinginan-keinginan yang berubah-ubah dari sifat lemahnya.
Ketika manusia mendapat bagian dari sifat ilahi, kasih Tuhan akan menjadi prinsip yang bertahan di dalam jiwa, dan dirinya dan kekhasannnya tidak akan dipamerkan. Tapi sangat menyedihkan melihat orang-orang yang harus menjadi bejana-bejana demi kehormatan rendah, terlibat dalam pemuasan sifat yang rendah, dan hidup di jalan yang dikutuk hati nurani. Kerusakan di dalam bersatu dengan kerusakan di luar, dan manusia yang mengaku beriman dan ber-Tuhan, jatuh ke tingkat yang rendah, selalu berduka atas kekurangan mereka, tetapi tidak pernah mengatasinya, dan luka memar iblis ada di bawah kaki mereka. Rasa bersalah dan kecaman terus meliputi jiwa, dan seolah-olah ingin berteriak, "Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?". Melalui kegemaran melakukan dosa, penghargaan terhadap diri sendiri hancur; dan penghargaan terhadap orang lain berkurang, karena kita berada di bawah kesan bahwa orang lain jahat sama seperti diri kita sendiri.
Berikut ada 6 (enam) cara bagi orang tua untuk membentuk kecerdasan komprehensif  seorang anak, sebagai cara  mendapatkan hidup mudah dan berbuah banyak bagi kehidupan, dan mampu merubah setiap godaan dan pencobaan yang datang merongrong diri anak menjadi pemicu semangat dalam belajar dan berkarya, sebagai berikut:
1.  Mengajarkan anak untuk takut akan Tuhan
Dari senua prinsip pembentukan kecerdasan yang ada disini, prinsip takut akan Tuhan adalah hal yang paling penting. Takut akan Tuhan adalah perbuatan dalam menjauhi larangan Tuhan dan mematuhi perintah/hukum-hukum Tuhan, Takut akan Tuhan adalah awal dari kedatangan segala hikmat. Mengajarkan anak untuk takut akan Tuhan adalah perlindungan bagi anak dengan menghormati keberadaan Tuhan yang Maha tahu dan Maha bijaksana.
Orang tua yang mengajarkan anaknya untuk takut akan Tuhan, membuat pilihan yang tepat bagi anaknya untuk mau diajar oleh Allah yang menciptakan langit dan bumi, oleh Dia yang mengatur bintang-bintang agar tetap di cakrawala dan Dia menunjuk matahari dan bulan untuk melakukan tugasnya menerangi bumi. Allah mau mengajar umatNya yang takut akan Tuhan, pengetahuan yang diajar oleh Allah bagi manusia berguna bagi tercapainya perkembangan kekuatan mental yang tertinggi, pencapaian ini bermanfaat untuk menghormati Allah dan untuk kebaikan hidup manusia juga.
Rasa takut akan Tuhan, tidak sama dengan rasa takut yang menghinggapi diri sendiri. Rasa takut ynag menghinggapi diri sendiri seperti takut kematian, takut menghadapi masa depan, takut akan kehilangan pekerjaan atau sesuatu, takut gagal adalah disebabkan oleh akibat tidak mampunya pikiran menguraikan peristiwa yang diterimanya sehingga menciptakan gambaran semu. Tetapi takut akan Tuhan, menguasai segala akal, pikiran dan jiwa sehingga seseorang tidak mau melanggar hukum-hukum Allah. Takut akan Tuhan akan mengubahkan kelemahan menjadi kekuatan diri, dan mengubahkan hambatan menjadi harapan. Kekuatan yang dasyat ada pada rasa takut akan Tuhan yang dapat berguna  menuju kehidupan yang lebih baik.
2.  Membekali anak dengan Ilmu dan Pengetahuan yang benar
Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang melampaui pengetahuan sebelumnya dan selanjutnya pengetahuan itu dimasukkan ke dalam latar belakang setiap pengetahuan berikutnya untuk memberi keselamatan jiwa bagi yang mempelajarinya. Pengetahuan yang benar hanya bisa diterima bila sesuai dengan Firman Tuhan, pengetahuan sains harus didukung pendapat dogma agama dan keduanya harus berjalan seiringan untuk pengembangan karakter diri dan kecerdasan manusia dalam rupa kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan spirituil (SQ) dan kecerdasan attitude atau menghadapai hambatan (AQ). Untuk sekedar menambah tingkat kecerdasan anak, penulis memberikan semacam Test Kecerdasan Manusia yang terdiri dari 4 (empat) macam test yaitu test IQ, EQ, SQ dan AQ, silahkan berkunjung dan lihat di website beralamat Http://www.PMD Sawi–AK.Blogspot.Co.Id, dan hitung berapa nilai kecerdasan manusianya anak anda.
Orang tua bertanggung jawab dalam membekali anak dengan ilmu dan pengetahuan yang benar berupa irisan antara pendapat sains dan pendapat dogma agama. Seorang anak harus menghindari pengetahuan spekulatif yang tidak sesuai dengan ajaran Firman Tuhan. Pengetahuan spekulatif tidak akan membuahkan hasil yang berguna bagi diri anak dalam kepraktisan hidupnya dan bila ditempuh usaha ini akan membahayakan jiwa anak sekarang ini maupun di masa yang akan datang. Dalam upaya mendapatkan pengetahuan spekulatif, anak akan kehilangan semua apa yang layak dimilikinya. Pengetahuan spekulatif yang memikat yang diperoleh dari ajaran tidak benar akan menyebabkan anak menjadi manusia terasing dari Allah dan dipisahkan sejauh bumi dari langit. Pengetahuan spekulatif yang dihindari anak adalah semacam teori panteistik, tulisan kafir, sejarah buruk, teologi lore, sastra klasik, sastra sensasional, mitos, dongeng, fairy tales, dan lain-lain.
Dengan anak mempelajari ilmu keselamatan jiwa dan pengetahuan yang benar, Allah akan menambahkan pengetahuan-pengetahuan murni yang di atasnya tidak ada kutukan dosa, Allah akan memberikan pengetahuan yang akan menghantar manusia pada sukacita abadi bagi manusia yang tidak mau melakukan dosa dan manusia yang memiliki karakter seperti karakter Allah..Pengetahuan yang datang dari atas yang murni itulah pengetahuan yang benar yang memberikan keselamatan jiwa. Seorang anak harus diajarkan untuk memikirkan hal-hal yang dari atas yang datangnya dari Sorga Allah.
3.  Membiasakan anak tekun belajar dan berlatih
Mengulang-ulang mempelajari pelajaran adalah penting bagi anak dalam melatih daya ingatnya, mempelajari pelajaran sepuluh kali berulang-ulang satu pelajaran adalah lebih baik daripada mempelajari satu kali sepuluh pelajaran (prinsip belajar 10x1 lebih baik daripada 1x10).
Dengan ketekunan belajar dan berlatih, semua sarana, fasilitas, daya upaya dipakai untuk usaha mendapatkan pengetahuan yang benar sesuai menurut sains dan menurut dogma agama agar hidup selamat di dunia dan di akhirat, jika tidak akan berakibat kehancuran bagi diri anak. Dengan kebiasan yang salah, teori yang salah, pengetahuan yang salah,, seorang anak akan kehilangan kekuatan penghargaan diri, ia kehilangan kontrol diri, ia tidak bisa beralasan tentang hal-hal yang paling dalam yang menyangkut dirinya.
Orang tua harus membiasakan anaknya untuk belajar melatih diri untuk sabar, berlatih untuk teang, berlatih untuk memberi dengan cinta, berlatih untuk sopan, dan berlatih apapun yang menurut ukuran mewakili kecerdasan manusia unggul. Tekun belajar dan berlatih akan membuat diri anak menjadi pandai, tangguh, percaya diri, mahir, dan  mandiri.
Banyak belajar dan berlatih akan membuahkan hasil tercapainya prestasi gemilang, bisa jadi dengan ketekunan belajar seorang anak akan memiliki kepintaran melebihi kepintaran gurunya, dan inilah kebanggaan sejati seorang guru apabila anak didiknya memiliki prestasi gemilang dan kepintaran melebihi gurunya.
.4. Memperhatikan kesehatan anak yang berpengaruh terhadap kecerdasan dan karakter anak
Dari diri seorang anak dituntut tidak hanya kualitas tertinggi pikiran dan jiwanya, tetapi juga kualitas kesehatan tubuh anak harus prima. Orang tua mendambakan seorang anak yang hebat di mata Tuhan yang memberi sukacita bagi hidup orang lain.
Kesehatan anak dapat tercapai bila anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas, memperhatikan cara berpakaian, diet sehat atau makanan bergizi dan seimbang dengan kecukupan gizi ± 2100-2200 kkal dan air minum 10 gelas sehari, belajar rajin, olah raga teratur, serta berdoa dan percaya kepada kekuatan Tuhan. Tidak ada yang tidak penting setiap pengaruh yang mempengaruhi kesehatan tubuh. Setiap pengaruh yang mempengaruhi kesehatan tubuh anak memiliki kaitan dengan pikiran dan karakternya.
Orang tua harus memahami prinsip-prinsip yang mendasari perawatan dan pelatihan anak. Orang tua  harus mampu membesarkan mereka dalam kesehatan fisik, mental, dan moral. Orang tua harus mempelajari hukum alam. Orang tua harus berkenalan dengan organ-organ tubuh manusia, perlu memahami fungsi berbagai organ tubuh, dan hubungan dan keterkaitan satu sama lain. Orang tua harus mempelajari hubungan mental dengan kekuatan fisik, dan kondisi yang dibutuhkan untuk tindakan sehat. Menganggap tanggung jawab orang tua tanpa persiapan semacam itu adalah dosa.
Pentingnya melatih anak-anak terhadap kebiasaan diet yang tepat hampir tidak dapat dibesar-besarkan. Anak kecil perlu belajar bahwa mereka makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Pelatihan harus dimulai dari bayi di pelukan ibunya. Anak harus diberi makanan hanya pada interval teratur, dan lebih jarang pada usia lebih tua. Seharusnya tidak diberi permen, atau makanan orang tua (makanan keras), yang tidak bisa dicerna. Perhatian dan keteraturan dalam memberi makan bayi tidak hanya akan meningkatkan kesehatan, dan dengan demikian cenderung membuat mereka pendiam dan pemarah, namun akan meletakkan dasar kebiasaan yang akan menjadi berkat bagi mereka di tahun-tahun berikutnya.
Seiring anak-anak lepas dari masa kanak-kanak, perhatian besar harus tetap diperhatikan dalam mendidik selera mereka. Keseringan mereka diijinkan untuk makan apa yang mereka pilih dan kapan mereka memilih tanpa referensi kesehatan, rasa sakit dikorbankan dan pemborosan uang begitu sering tercurah pada barang-barang makanan yang tidak sehat, membuat orang muda berpikir bahwa objek tertinggi dalam hidup dan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar adalah untuk dapat memanjakan selera. Hasil dari latihan semacam ini adalah kerakusan, lalu datanglah penyakit, yang biasanya diikuti dengan diagnosa keracunan.
Orang tua harus melatih selera anak-anak mereka dan sebaiknya tidak mengizinkan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. Tapi dalam upaya mengatur diet, kita harus berhati-hati agar tidak salah dalam meminta anak makan yang tidak enak, atau makan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Anak-anak memiliki hak, mereka memiliki preferensi (selera), dan bila preferensi ini masuk akal, mereka harus dihormati.
Regularitas dalam makan harus diperhatikan dengan seksama, ada yang makan 2 kali atau 3 kali sehari. Tidak ada yang harus dimakan di sela waktu makan, tidak ada kembang gula, kacang-kacangan, buah-buahan, atau makanan apapun. Penyimpangan dalam makan merusak irama sehat dari organ pencernaan, sehingga merugikan kesehatan dan keceriaan. Dan ketika anak-anak datang ke meja makan, mereka tidak menyukai makanan sehat lagi; Keinginan mereka mendambakan apa yang menyakitkan bagi tubuh mereka.
Ibu yang memuaskan keinginan anak mereka dengan mengorbankan kesehatan dan kegembiraan, menabur benih kejahatan yang akan muncul dan berbuah. Pemanjaan diri tumbuh dengan pertumbuhan rendah anak-anak, dan kekuatan mental dan fisik dikorbankan. Ibu yang melakukan pekerjaan ini menuai dengan kepahitan benih yang telah mereka tanam. Mereka ingin melihat anak-anak mereka tumbuh dalam pikiran dan karakter untuk bertindak mulia dan berguna di masyarakat atau di rumah., nyatanya kekuatan spirituil dan mental dan fisik anak menderita di bawah pengaruh makanan yang tidak sehat. Hati nurani menjadi tercengang, dan kerentanan terhadap kesan baik terganggu.
Sementara anak-anak harus diajar untuk mengendalikan nafsu makan dan makan dengan mengacu pada kesehatan; Biarlah jelas bahwa mereka menyangkal diri mereka sendiri hanya apa yang akan merugikan mereka. Mereka melepaskan hal-hal yang menyakitkan untuk sesuatu yang lebih baik. Biarkan meja makan dibuat begitu mengundang dan menarik, karena disuplai dengan barang makanan lezat bergizi yang telah diberikan oleh Allah dengan baik. Biarkan waktu makan menjadi ceria, happy time. Selagi kita menikmati karunia Allah, marilah kita menanggapi dengan pujian yang rasa syukur kepada Pemberi.
Dalam banyak kasus penyakit anak-anak, dapat ditelusuri dalam penyimpangan dalam makan, pakaian yang tidak mencukupi pada cuaca/malam yang dingin, kurang olahraga yang teratur untuk menjaga sirkulasi darah tetap sehat, atau kekurangan kelimpahan udara untuk pemurniannya, mungkin menjadi penyebab masalahnya. Biarkan orang tua belajar untuk menemukan penyebab penyakitnya, dan kemudian memperbaiki kondisi yang salah sesegera mungkin.
Semua orang tua memiliki kekuatan untuk belajar banyak mengenai perawatan dan pencegahan, dan bahkan pengobatan penyakit. Terutama seharusnya ibu mengetahui apa yang harus dilakukan dalam kasus penyakit biasa di keluarganya. Ibu harus tahu bagaimana cara merawat anak yang sakit itu. Cintanya dan wawasannya harus sesuai dengannya untuk melakukan layanan itu, yang tidak bisa dipercaya dengan baik ditangani oleh orang lain.
Orang tua harus lebih awal berusaha menarik perhatian anak-anak mereka dalam mempelajari fisiologi dan harus mengajarkan prinsip-prinsipnya yang lebih sederhana. Ajari mereka cara terbaik untuk melestarikan kekuatan fisik, mental, dan spiritual, dan bagaimana menggunakan bakat mereka sehingga hidup mereka dapat membawa berkah satu sama lain dan menghormati Allah. Pengetahuan ini sangat berharga bagi anak usia muda. Pendidikan dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan dan kesehatan lebih penting bagi mereka daripada pengetahuan tentang banyak ilmu yang diajarkan di sekolah.
5.  Mengembangkan semua rahmat yang akan mencerahkan kehidupan rumah dan menimbulkan rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu hal baru yang baik dan berguna. 
Ajarkan anak-anak anda sejak dari buaian untuk mempraktekkan penyangkalan diri dan pengendalian diri. Ajari mereka untuk menikmati keindahan alam dan dalam pekerjaan yang berguna untuk melatih secara sistematis semua kekuatan tubuh dan pikiran. Bawa mereka untuk memiliki konstitusi suara dan moral yang baik, memiliki disposisi cerah dan perasaan manis. Mengesankan atas pikiran lembut mereka, kebenaran bahwa Allah tidak merancang kita harus hidup untuk kepuasan sekarang saja, tapi demi kebaikan kita dimasa depan. Ajarkan mereka untuk tidak menyerah pada setiap godaan buruk dan jahat; tetapi menerima setiap hal mulia, baik dan gagah. Pelajaran ini akan menjadi seperti benih yang ditaburkan di tanah yang baik, dan mereka akan menghasilkan buah yang akan membuat hati anda senang.
Di atas semua hal lain, biarkan orang tua mengelilingi anak-anak mereka dengan suasana ceria, sopan santun, dan cinta. Sebuah rumah di mana cinta tinggal, dan di mana hal itu diungkapkan dalam penampilan, kata-kata, dan tindakan, adalah menghadirkan hal-hal baru yang baik dan berguna bagi hidup, Sebuah rumah di mana cinta tinggal adalah tempat di mana malaikat senang mewujudkan kehadiran mereka, sehingga anak-anak hidup cerah menjalani hal-hal baru yang baik dan bermanfaat yang ia temui.
Orangtua, biarkan sinar matahari cinta, keceriaan, dan kepuasan bahagia masuk ke dalam hatimu sendiri, dan biarkan pengaruh manis dan sorak hatimu menyelimuti semua penghuni rumahmu. Manifestasikan semangat hati yang baik dan sabar; Dan dorong hal yang sama pada anak-anak Anda, kembangkan semua rahmat yang akan mencerahkan kehidupan rumah. Atmosfir yang akan tercipta adalah untuk anak-anak, seperti udara dan sinar matahari mengenai sayuran, meningkatkan kesehatan dan kekuatan jiwa, pikiran dan tubuh.
6.  Tanamkan prinsip /metode hidup yang praktis dan berguna dalam diri anak
Orang tua harus hidup lebih banyak untuk anak-anak mereka, dan lebih sedikit untuk tetangga/masyarakat. Pelajarilah perihal kehidupan dan kesehatan, dan letakkan pengetahuan Anda untuk penggunaan praktis. Ajarkan anak Anda untuk beralasan karena sebab. Ajari anak tidak senang berteori, tetapi berpikir dan bertindak praktis dalam hidupnya. Ajari mereka bahwa jika mereka menginginkan kesehatan, kehidupan  dan kebahagiaan, mereka harus mematuhi hukum alam, mereka harus mematuhi Term of Rule hidup bermasyarakat, dan mereka harus mematuhi hukum-hukum Sorga Allah. Meskipun Anda mungkin tidak melihat peningkatan yang begitu cepat sesuai keinginan Anda, jangan berkecil hati, tapi dengan sabar dan tekun melanjutkan pekerjaan Anda.
Cara terbaik untuk melestarikan kehidupan dan membuat hidup lebih mudah, dan bagaimana menggunakan bakat sehingga hidup dapat membawa berkah satu sama lain dan menghormati Allah adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip dan metode hidup sederhana yang lebih praktis. Pengetahuan ini sangat berharga bagi anak usia muda. Ada beberapa dasar yang harus dimiliki anak untuk mencapai metode/prinsip-prinsip praktis dalam hidupnya seperti:
a.    Berpikiran terbuka
Berpikiran terbuka berarti anak mau menerima pendapat yang benar dari mana saja dan dari siapa saja, termasuk belajar dari teman-temannya dan mampu memberikan penghargaan atas pendapat tersebut.
b.    Mengembangkan minat membaca buku
Membaca buku adalah membuka jendela pikiran terhadap ilmu-ilmu yang berkembang dengan pesat. Anak harus terus belajar untuk pengembangan dirinya.
c.    Mengikuti perkembangan pengetahuan yang terjadi
Sudah seyogyanya anak harus tahu apa yang sedang menjadi tren pengetahuan dewasa ini.
d.    Mempunyai pribadi ulet, tangguh dan mandiri
Anak diajarkan cara melepaskan semua perihal negatif yang menghambat prestasi anak. Anak harus bisa menjadi pelaku pengolah kecerdasan sehingga tercipta kecerdasan komprehensif yang unggul, murni dan agung.
Sebuah pembelajaran dan pelatihan usaha praktis hidup jauh lebih berharga daripada mempelajari sejumlah mata pelajaran, bahkan untuk memiliki pengetahuan benar kita harus memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan benar itu dan mengajarkannya pada orang lain.
Tidak ada asap jika tidak ada api. Tidak ada akibat jika tidak ada sebab. Manakah yang lebih praktis mneyebut ‘air’ sebagai paduan unsur Hidrogen dan unsur Oksigen, atau sebagai H2O (air) ?, tentulah air adalah H2O yang lebih praktis. Perihal apapun dalam hidup, bagian/muatan yang tersirat (tidak tampak) lebih banyak dari bagian/muatan yang tersurat (tampak), tetapi efek dari yang tersirat (tak tampak) itu dapat dirasakan dan dinyatakan tampak keberadaannya, sehingga tingkat kenyakinan akan ditambahkan bagi orang yang mengetahuinya. Perihal *tersirat (tak tampak) itu dapat di praktiskan., sedangkan bagian yang tampak itu adalah pelik dan rumit.
Manakah yang lebih praktis, bila di malam hari menjelang tidur, Anda mau mematikan lampu kamar anak anda dengan cara anda melangkah masuk ke kamar anak dan menekan saklar lampunya, atau dengan cara anda mematikannya dengan menekan saklar yang ada di samping tempat tidur anda yang telah terhubung dua saklar ganda mutual ? tentulah lebih praktis dengan saklar yang di samping tempat tidur anda. Bila esok hari gelap malam, anak mau menghidupkan lampu kamarnya dapat dengan menekan saklar lampu di kamarnya saja, bukan lagi di kamar orang tuanya. Itulah adanya akal budi yang berguna bagi kemudahan dan kepraktisan hidup.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar