Dapatkan Uang, klik link ini http://projects.id/uangberkah

Minggu, 11 November 2018

Perjanjian Kasih


Perjanjian Kasih

Kontrak Ilahi untuk Menyelamatkan Jiwa Anda


Persyaratan Perjanjian Baru adalah sama dengan persyaratan Perjanjian Lama:
taat dan hidup; tidak taat dan mati.

Sebuah perjanjian hukum hanya terdiri dari "Sebuah kesepakatan, kontrak, atau perjanjian tertulis antara dua pihak/orang yang sering merupakan sebuah perjanjian untuk melakukan atau untuk tidak melakukan sesuatu".
Alkitab menyajikan sebuah perjanjian hukum. Ini adalah kontrak hukum yang paling penting yang pernah dimasuki. Ini adalah kesepakatan antara Yang Mahatinggi dan setiap orang yang pernah hidup bagi keselamatan jiwa. Ada banyak kebingungan mengenai apa sebenarnya perjanjian itu, dan kondisi-kondisi apa yang ditentukan agar bisa mendapatkan manfaat dari perjanjian itu. Alkitab merujuk pada dua perjanjian yaitu "perjanjian lama" dan "perjanjian baru." Yang menurut ilmu tata istilah tampaknya menunjukkan perbedaan antara yang pertama, perjanjian "tua" dan yang lainnya, perjanjian "baru".
Kesalah-pahaman ini telah membawa seluruh dunia ke dalam kesalahan. Kesalahan utama yang timbul adalah keyakinan bahwa di bawah persyaratan "perjanjian baru", "hukum telah dipakukan di atas salib" dan tidak lagi mengikat. Banyak orang Kristen tulus yang berpendapat bahwa dengan kematian Yesus, semua orang "telah dibebaskan" dari hukum Ilahi sehingga tidak ada lagi persyaratan yang perlu ditaati lagi. Keyakinan seperti ini bertentangan dengan Kitab Suci.
Hukum Allah adalah salinan dari karakter kasih-Nya. Yohanes menulis: "Barangsiapa tidak mengasihi tidak mengenal Allah; karena Allah adalah kasih". (1 Yohanes 4: 8). Sang Pencipta menyatakan melalui Firman-Nya: "Aku Allah, Aku tidak berubah; dan kamu bani Yakub tidak akan lenyap". (Maleakhi 3: 6). Karena karakter kasih Bapalah yang membuat Dia berpanjang sabar pada anak-anak-Nya yang berdosa. Jika umat manusia tidak lagi dituntut untuk menaati hukum Ilahi, maka tidak akan ada alasan lagi bagi-Nya untuk mengatakan bahwa karena karakter kasih-Nya yang tidak berubahlah yang telah melindungi orang-orang berdosa sehingga tidak "dilenyapkan".
Hukum itu diperlukan
Tidak ada kerajaan duniawi yang bisa tetap bertahan tanpa hukum; demikian pun dengan kerajaan Ilahi. Jika hukum disingkirkan, seluruh kerajaan akan jatuh ke dalam kekacauan. Karena pelanggaran terhadap hukum Ilahilah yang telah membawa bumi jatuh ke dalam kekacauan dosa. Hukum Ilahi adalah sempurna dan akan tetap kokoh sampai selamanya sebagai satu-satunya sarana untuk meraih kebahagiaan dan kekudusan. Persyaratan untuk mewarisi janji-janji Perjanjian Baru adalah sama dengan persyaratan untuk mewarisi janji-janji Perjanjian Lama: taat dan hidup; tidak taat dan mati.
Kata yang diterjemahkan "perjanjian" berasal dari kata Ibrani beriyth (#1285). Artinya adalah:
(memotong). . . (karena dilakukan dengan cara lewat diantara potongan-potongan daging): - perjanjian, liga, konfederasi, . . . Kata ini pertama kali muncul di dalam Kejadian 6:18 . . . Sebagian besar kemunculan kata beriyth adalah dari "perjanjian" [Allah] dengan manusia . . . "perjanjian" [Allah] adalah sebuah hubungan kasih dan kesetiaan antara [Dia] dan orang-orang pilihan-Nya . . . (Keluaran 19:5-6)3
Kesepakatan perjanjian antara Abram (dan keturunannya) dan Allah dan keturunan-Nya (Yesus) disahkan ketika Abram memotong hewan kurban itu menjadi dua bagian dan dia serta Allah lewat di antara potongan-potongan daging itu. Itu adalah sebuah pengesahan hukum kuno yang mengatakan, pada dasarnya, "demikianlah hal itu akan dilakukan kepada saya dan lebih lagi jika saya melanggar kesepakatan perjanjian kita". Ritual sunat diberikan pada waktu itu sebagai sebuah tanda kesepakatan perjanjian mereka.
Perjanjian lama menatap ke depan pada kematian Yesus di atas kayu salib. Itu menjanjikan pengampunan dan penyucian bagi semua orang yang menerima dengan iman pengorbanan atas nama mereka dari Mesias yang dijanjikan. Pengorbanan darah diajarkan dalam bentuk lambang pada apa yang akan digenapi dalam gambar besar dari lambang itu, yaitu: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dengan demikian, semua orang yang hidup dan mati sebelum kedatangan Sang Juruselamat masih bisa dibenarkan oleh darah-Nya yang ditumpahkan atas nama mereka.
Sebuah perjanjian hukum yang baru dapat memiliki banyak persyaratan yang sama dengan perjanjian hukum yang lama. Perjanjian yang baru tidak selalu menyisihkan segala sesuatu yang ada di dalam perjanjian atau kesepakatan yang lama. Beginilah persoalan yang ada pada perjanjian baru di dalam Alkitab. Perjanjian baru menoleh ke belakang pada kematian Yesus di atas kayu salib. Sama seperti perjanjian lama, yang menjanjikan pengampunan dan penyucian bagi semua orang yang menerima dengan iman pengorbanan yang dibuat atas nama mereka. Apakah seseorang hidup sebelum kematian Mesias atau sesudahnya, istilah perjanjian tetap sama. Persyaratannya juga tetap sama: seseorang harus menerima dengan iman pengorbanan yang dilakukan demi namanya. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian dari Allah: itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada seorangpun yang memegahkan diri". (Efesus 2: 8-9). Kematian Yesus adalah cukup untuk semua orang, baik yang berada di bawah perjanjian lama maupun perjanjian baru.
Sebuah Kesalahan Umum
Di bawah Taurat? atau di bawah Kasih Karunia?

Sebuah kesalahan muncul ketika orang-orang menganggap bahwa kematian Mesias "memakukan perjanjian lama di atas kayu salib". Mereka pergi dengan mengatakan, "Kami berada di bawah kasih karunia sekarang. Hukum Taurat tidak lagi harus dipelihara". Alkitab mengungkapkan keyakinan seperti ini adalah merupakan sebuah kebohongan yang merusak: Karena Aku Allah; Aku tidak berubah". (Maleakhi 3:6). "Yesus Kristus adalah sama baik kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya". (Ibrani 13:6).
Kematian Yesus memenuhi persyaratan ilahi dari perjanjian lama. Sang Pencipta telah memberikan Anak-Nya untuk mati bagi dosa-dosa umat manusia. Namun, hal ini tidak, memenuhi persyaratan manusia dari perjanjian lama. Persyaratan-persyaratan tersebut tetap berlaku untuk setiap generasi yang baru lahir. Syaratnya adalah sederhana: taat dan hidup dengan iman pada kurban kematian Sang Juruselamat atau tidak taat dan mati. Pilihan untuk taat atau tidak taat pada perjanjian itu tetap ada di pihak manusia. Jika anda taati, maka anda memelihara perjanjian itu. Jika anda tidak taati, maka anda melanggar perjanjian itu.
Perjanjian yang pertama "gagal" bukan karena adanya kekurangan yang terdapat pada pihak Ilahi. Malahan sebaliknya, manusia telah gagal memelihara hukum Allah dengan sempurna, yang merupakan bagian yang harus dilakukan oleh mereka. Segera setelah Allah membebaskan orang-orang Israel dari perbudakan Mesir, Dia berusaha untuk memperbaharui perjanjian Abraham dengan mereka. Dalam salah satu bagian Alkitab yang paling terang menjelaskan mengenai perjanjian ilahi/manusia, Alkitab mencatat:
Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan Allah berseru dari gunung itu kepadanya, firman-Nya, . . .
Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.
Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.
Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.
Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan Allah kepadanya.
Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan Allah akan kami lakukan." (Keluaran 19: 3-8)
"Semua yang difirmankan Allah akan kami lakukan." Walaupun niat untuk memelihara hukum ilahi itu baik dan perlu, namun itu belum cukup. Tidak ada orang yang bisa memelihara hukum ilahi dengan kekuatannya sendiri. Semua orang yang mencoba untuk melakukannya sendiri pasti akan gagal, sama seperti yang terjadi pada orang-orang Israel. Dalam waktu enam minggu, mereka telah murtad dengan mendirikan sebuah lembu emas, dan menyatakan kata-kata hujatan: "Hai Israel, inilah allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir". (Keluaran 32:4). Tindakan ini adalah sebuah pelanggaran nyata terhadap kesepakatan perjanjian mereka sehingga Allah berkata kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kau pimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka". (Keluaran 32:7-8).
Ketika orang-orang Israel melanggar kesepakatan perjanjian mereka dengan Allah, Dia juga dibebaskan dari kewajiban-Nya pada perjanjian itu. "Dan Allah berfirman kepada Musa, telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar". (Keluaran 32:9-10). Allah mengampuni orang-orang Israel, tetapi mereka tidak pernah bisa, dengan kekuatan mereka sendiri, untuk memelihara persyaratan perjanjian itu.
Perjanjian "baru" masih menuntut penyerahan dan ketaatan sebagai persyaratan bagi manusia dalam perjanjian hukum antara Pencipta dan makhluk ciptaan. "Adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Allah melarang! Karena itu kami meneguhkannya!". (Roma 3:31). Dengan demikian, pengorbanan darah tidak lagi dilakukan sejak lambang (simbol) telah digenapi di dalam gambar besar (nyata) yang dilambangkan itu di Golgota. Namun, hari-hari raya masih harus dirayakan. Hari-hari raya itu, seperti Sabat hari ketujuh, adalah "pertemuan kudus" untuk Yahuwah.
Perjanjian Baru & Hari-hari Raya
Pemeliharaan perayaan hari-hari raya suci ini, di bawah perjanjian baru, adalah berbeda dari perjanjian lama. Karena pengorbanan telah dilakukan, tidak ada lagi darah yang harus ditumpahkan, baik dengan kurban binatang maupun dengan sunat. Sebaliknya, di bawah perjanjian baru, peringatan suci ini dirayakan dengan menggunakan simbol-simbol yang Yesus tetapkan pada perjamuan terakhir: roti dan anggur.
Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."
Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 26:26-28; lihat juga Lukas 22:15-20 dan Markus 14:22-24).
Hari-hari Raya Yahuwah: Mengikat Selama-lamanya

Kata yang di sini diterjemahkan dengan "perjanjian", berasal dari kata Yunani diatheke. Yang berarti kontrak atau perjanjian.4 Itu adalah kata yang sama yang di dalam semua bahasa Ibrani diterjemahkan dengan "perjanjian." "Dan kepada Yesus Kristus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel". (Ibrani 12:24).
Rasul Paulus dengan jelas melihat pembentukan sebuah perjanjian baru pada Perjamuan Terakhir di bawah persyaratan ketaatan yang sama seperti di dalam perjanjian lama.
Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Yesus, yaitu bahwa Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti:
dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"
Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Yesus sampai Ia datang.
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Yesus, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Yesus.
Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Yesus Kristus, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. (1 Korintus 11:23-29)
Ini merupakan bagian yang penting dari Alkitab. Jika hukum itu benar-benar tidak lagi mengikat, maka kita tidak akan mungkin lagi mengambil bagian dalam lambang-lambang ini dengan "tidak layak" yang akan menyebabkan "hukuman" untuk diri kita sendiri. Selanjutnya, Kitab Ibrani merujuk pada perjanjian (tunggal) sebagai yang "abadi": "Sekarang Eloah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita". (Ibrani 13:20).
Memperoleh Kebenaran Yahuwah

Kematian Yesus menggenapi persyaratan Ilahi dari kesepakatan perjanjian itu. Orang-orang percaya hidup di bawah "perjanjian baru," tapi itu masih tetap adalah bagian dari "perjanjian yang kekal" karena persyaratannya tidak berubah. Keselamatan masih ditawarkan dengan bebas kepada semua orang yang mau menerimanya. Bagian Ilahi telah terpenuhi. Bagian manusia, ketaatan kepada hukum ilahi, masih harus terus dipenuhi dalam kehidupan setiap individu.
Sebagai seorang Farisi, Paulus memiliki pengetahuan luas tentang hukum dan, lebih dari semua penulis lain, menulis tentang dua perjanjian itu. Dengan mengingatkan sejarah Israel, ia menjelaskan perlunya memelihara hukum ilahi melalui iman sebagai bagian dari kewajiban manusia baik dari perjanjian lama maupun perjanjian baru.
Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.
Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: "Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku," sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Dan dalam nas itu kita baca . . . "Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."
Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. . . . Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. (Ibrani 4: 2-6, 9-11).

CARA MENDAPATKAN KEPASTIAN KESELAMATAN 
DALAM PERJANJIAN KASIH ALLAH.

Kematian Yesus Kristus menggenapi persyaratan Ilahi dari kesepakatan perjanjian antara Allah dan semua manusia. Orang-orang percaya hidup di bawah "perjanjian baru," tapi itu masih tetap adalah bagian dari "perjanjian yang kekal" karena persyaratannya tidak berubah. Keselamatan masih ditawarkan dengan bebas kepada semua orang yang mau menerimanya.
Efesus 2:8  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman ;  itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu : jangan ada orang yang memegahkan diri.  2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan  dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Bagian Ilahi telah terpenuhi, tetapi bagian manusia masih harus terus dipenuhi ketaatan kepada hukum ilahi, dalam kehidupan setiap pribadi, Persyaratan perjanjian kasih ialah taat maka hidup, tidak taat maka mati.


Dalam menjalani kehidupan di dunia ini di masa Perjanjian Kasih, tawaran keselamatan hidup dari Allah harus kita kejar, ada upaya atau cara untuk mendapatkan kepastian keselamatan itu, Yaitu:

1.     Berdoa sungguh-sungguh , mohon Pimpinan Tuhan dan mengaku dosa.
Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita , maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa  kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Berdoalah begini: “Tuhan Yesus saya mengaku bahsa saya orang berdosa dan mohon pengampunan darimu, saya sadar tidak mungkin mendapatkan keselamatan kalau bukan karena Anugrah-Mu saja. Sekarang ini saya sungguh-sunguh bertobat dan bertekad hidup suci dengan pimpinan Roh kudus-Mu masuk ke dalam hatiku menjadi Juru selamat-ku dan sekaligus menjadi Tuhan yang memerintah hidupku dan kuasailah hidupku, bentuklah aku menjadi manusia yang berkenan kepada-Mu, dan arahkan hidupku setiap saat menyangkal diri, memikul salib, melakukan kehendak-Mu setiap bekerja dan berusaha keras mengejar keselamatan itu dan hidupku berbuah, Amin”.

2.      Percaya dengan Iman.
Roma 10:9 3 Sebab jika kamu mengaku  dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan,  dan percaya i  dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati ,  maka kamu akan diselamatkan. 10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Inilah iman yang menyelamatkan. Orang percaya harus terus menerus mempunyai keyakinan bahwa ia sudah mati bagi dunia dan segala keinginannya, dan hidup setelah mati adalah hidup yang sesungguhnya.
Roma 1:16-17  ... "Orang benar akan hidup oleh iman”.

3.    Mohon pimpinan Roh kudus dan bertobat.
Galatia 5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh,  maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.  5:17 Sebab keinginan daging  berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging --karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh,  maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.  5:19 Perbuatan daging  telah nyata, yaitu: percabulan,  kecemaran, hawa nafsu, 5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.  Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah 7 .  5:22 Tetapi buah  Roh  ialah: kasih,  sukacita, damai sejahtera,  kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum  yang menentang hal-hal itu. 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging  dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.  5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh,  baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,5:26 dan janganlah kita gila hormat,  janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
Kisah Rasul 3:19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,  3:20 agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.  3:21 Kristus itu harus tinggal di sorga  sampai waktu pemulihan segala sesuatu ,  seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. 3:22 Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi  dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu.  3:23 Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita.

4.   Tekun Mencari Firman Tuhan.
1 Timotius 4:13 Sementara itu, sampai aku datang  bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci,  dalam membangun dan dalam mengajar. 4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat  dan dengan penumpangan tangan  sidang penatua.  4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan f  dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

5.    Hidup dalam iman dan pengharapan.
Ibrani 11:1 Iman adalah 1  dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan i  dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Ibrani 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,  6:20 di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita,  ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek,  menjadi Imam Besar  sampai selama-lamanya.

6.   Menguji diri bahwa benar kita telah diselamatkan.
2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri,  apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu!  Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?  Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 
Akhirnya sebagai seorang yang percaya harus yakin dalam diri bahwa  ia berada di dalam Kristus.
 1 Yohanes 5:10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya;  barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta,  karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal  kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. 5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.
Kesempatan untuk masuk ke dalam sebuah hubungan perjanjian dengan Sang Pencipta masih terbuka. Singkirkan usaha pribadi anda. Terimalah dengan iman jasa-jasa Sang Juruselamat. Undanglah Dia ke dalam hati anda hari ini. Hidupilah dan taati. Adalah mungkin ketika Dia menghidupi hidup-Nya di dalam anda melalui iman.
"Aku telah disalibkan dengan Yahushua; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Yesus Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku". (Galatia 2:20).

Video Perjanjian Kasih: Perjanjian Baru & Perjanjian Lama Terjelaskan! 
https://www.worldslastchance.com/bahasa-indonesia/view-video/2278/perjanjian-kasih.html#.W-kUBQH5QrQ.blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar