Dapatkan Uang, klik link ini http://projects.id/uangberkah

Rabu, 13 September 2017

CINTA DALAM BERTUTUR, SALAH BERTUTUR PENYEBAB PETAKA

CINTA DALAM BERTUTUR,
SALAH BERTUTUR PENYEBAB PETAKA
(Oleh: SR. Pakpahan, SST)

                Allah adalah kasih, Allah adalah cinta. Di hari ke-enam penciptaan Allah menciptakan manusia sebagai mahluk paling agung diantara semua ciptaan lainNya, manusia pertama Adam dan Hawa diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia sebelum jatuh dalam dosa diberi Allah jaminan untuk hidup Abadi tanpa mengalami kematian daging atau kematian rohani. Di bumi masa awal penciptaan, manusia adalah gambaran dan rupa Allah yang memiliki karakter perilaku, emosi, spirituil dan pemikiran bahkan berkarya yang sama dengan Allah, terlebih memiliki kasih dan cinta. Manusia sebagai wakil Allah di bumi diberi wewenang memakai 4 (empat) jenis kecerdasannya untuk menguasai dan menaklukkan alam semesta. Di bumi manusia berkewajiban menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seluruh ciptaan Allah, namun sejak manusia telah jatuh dalam dosa, maka gambaran dan rupanya tidak sama lagi dengan penciptaNya, manusia tidak lagi hidup Abadi tetapi karena berdosa manusia akan mengalami kematian baik kematian daging maupun kematian rohani, upah dosa ialah maut dan maut menghasilkan kematian. Manusia pertama Adam hanya berusia 925 tahun saja masih kalah dengan Metuhsala yang berusia  975 tahun, sedangkan manusia sekarang ini paling banter hanya mencapai usia 70 tahun itupun sudah dianggap diberkati Tuhan hidupnya panjang umur di bumi, Umur yang panjang adalah tanda hidup yang diberkati Tuhan.
                Apakah manusia sekarang bisa kembali dapat hidup abadi, hidup panjang umur katakanlah melebihi 1000 tahun? Logis kah manusia dari usianya bisa kalah dibanding umur kura-kura yang bisa mencapai 3000 tahun ? Apakah kebahagiaan itu indikatornya panjang umur?
                Seberapa banyaknya pun dosa manusia itu, tapi bila ia sadar dan bertobat kembali ke jalan terang Allah, kembali memulihkan gambaran dan rupanya sama seperti Allah, bila ia mau sebagai wakil Allah di bumi menerapkan hidup Kasih dan Hidup mencintai segala mahluk dan segala ciptaan lainnya yang Allah Ciptakan, hidup dalam penyelamatan dengan mengikuti seseorang manusia rohani yang juga manusia Allah yang bisa dijadikan sebagai juru selamatnya yang memberikan hidup abadi baginya, niscaya tentu saja manusia akan dapat hidup panjang umur, hidup bahagia dan hidup abadi selama-lamanya, memang diawal penciptaan itulah kehendak Allah bagi manusia agar dapat hidup abadi panjang umur dan diberkati Tuhan. Memperoleh Keselamatan untuk hidup abadi bukanlah hasil usaha manusia sendiri, tetapi Keselamatan hidup adalah semata-mata pemberian Allah saja.
                Kecenderungan hidup seorang perempuan usianya lebih pendek dibanding dengan usia seorang laki-laki, mengapa demikian ? ini adalah fakta dalam hidup, di awal penciptaan saja manusia perempuan Hawa lah yang duluan jatuh dalam dosa dan maut, manusia perempuan sekarang ini sebagai mahluk feminim yang mudah tergoda oleh tipuan dunia dibanding dengan laki-laki. Dalam bertutur saja perempuan cerewetnya minta ampun, tidak ada berhikmat, sebab dengan berdiam diri saja seseorang dapat dikatakan adalah berhikmat. Lain lagi dalam sehari bila dihitung banyaknya kata atau kalimat yang diucapkan seorang perempuan adalah lebih banyak dibanding dengan kata/kalimat yang diucapkan laki-laki, malah apa yang diperkatakan seorang perempuan selalu mengulangi apa yang telah diucapkannya sebelumnya, hari ini ia berkata A, besok ia akan mengulanginya lagi mengatakan A juga. Cinta dan kasih seorang perempuan lebih sedikit dibanding seorang laki-laki. Seorang perempuan kurang menjaga mulutnya, kurang mengekang lidahnya, ‘mulutmu adalah harimaumu’, pada seekor kuda yang dipegang adalah tali kekangnya agar dapat berjalan dan dalam hidup manusia kekang yang dipegang adalah perkataannya.
                Dalam bertutur, mengeluarkan perkataan/kalimat dalam keseharian rutinitas inilah kualitas cinta dan kualitas kasih seseorang akan diuji. Tidak sedikit 2 orang sejoli yang berpacaran akhirnya putus cinta karena salah memberi kata-kata kepada pacarnya, tidak sedikit suasana di tempat kerja menjadi tidak kondusif gara-gara 2 orang rekan kerja yang bertengkar mulut, tidak sedikit pembangunan infra struktur terhenti gara-gara pihak yang berwewenang/pemerintah salah menuliskan kata-kata/kalimat di undang-undang atau peraturannya. Tidak banyak orang memberi kata-kata yang manis dilidah dan sedap pada langit-langit bagi lawan bicaranya, perkataan yang manis dilidah dan sedap pada langit-langit itulah yang menyenangkan hati banyak orang, sehingga perkataan yang terdengar bagaikan Sabda dari Sorga Allah. Seni bertutur yang baik dan indah membuat cinta dan kasih dapat bertumbuh di hati. Tidak sedikit suami istri cekcok bertengkar sengit gara-gara salah mengeluarkan perkataan sehingga mereka berpisah masing-masing mengikuti jalannya sendiri.
Gambar: Identitas diri saya berKTP penduduk Kabupaten Pelalawan, Riau.
                Tragedi, gelombang badai dalam rumah tangga inilah yang saya alami saat ini, sudah lama sejak akhir tahun 2006 saya ditinggalkan seorang diri oleh istri tercinta. Ia melarikan diri kembali ke rumah orang tuanya mertuaku sang misterius dengan membawa semua barang-barangnya dan kedua anak buah hati tersayang kami. Kami berpisah sudah lama hingga sekarang sudah ada hampir 10 tahun atau 0,4 generasi manusia atau 0,1 generasi Allah kami sudah berjauh-jauhan. (masa satu generasi manusia  sama dengan 25 tahun, masa satu generasi Allah sama dengan 100 tahun). Perpisahan kami disebabkan bukan karena perbuatan selingkuh, bukan karena ekonomi rumah tangga yang kurang, bukan karena adu domba dari pihak keluarga masing-masing, bukan karena iming-imingan harta duniawi, bukan karena pihak ketiga OPT (Orang Pengganggu Tatanan rumah tangga), bukan karena tidak ada lagi cinta, bukan karena tidak ada lagi kasih di hati, tetapi disebabkan persoalan sepele saja, gara-gara saya mengeluarkan perkataan yang salah mungkin menyebabkan istri sakit hati, saat kami lagi sedang membangun rumah, saat rumah idaman mau selesai kubangun sendiri emosi saya tidak baik lagi saat itu. Rumah yang kubangun dengan tenaga sendiri apakah kurang cocok baginya, apakah saya pantas atau tidak mendapatkan pujian dari istri oleh karena saya sudah capek mengeluarkan keringat membangun rumah sendiri demi tempat berteduh tempat berbagi kebahagian bagi penghuni rumah tangga kami sendiri.
Foto: anak dan istri saya yang tercinta sudah hampir 10 tahun pergi meninggalkan saya seoran diri.
                Di kota Sarolangun-Jambi, saya enam tahun saja hidup sendiri di gedung rumah meksipun belum sempurna betul yang kubangun itu, saya harus pindah tugas ke kota Pangkalan Kerinci-Riau mengabdi sebagai seorang PNS di kantor BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Pelalawan. Akhirnya rumah di Sarolangun itu tertinggal kosong tak berpenghuni dan saya di Pangkalan Kerinci hidup tinggal di salah satu perumahan  yang satu rumahnya saya kredit. Enam tahun di Sarolangun tanpa keluarga ditambah 4 tahun di Pangkalan kerinci juga tanpa keluarga rasanya sangat kesepian, entah kekuatan apa yang ada pada diri hingga aku bisa bertahan hidup, untung saja Kasih Allah masih dapat kurasakan meskipun cinta dari istri dan kasih dari anak-anak tidak kurasakan lagi. Kasih Allah memang sungguh luar biasa, Kasih setiaNya tak berkesudahan.
Foto: Kedua anak saya masih balita dibawa pergi istri sewaktu meniggalkan saya, kini sudah besar anak yang tertua kelas 2 SMP dan si bungsu kela 1 SMP.
                Harapanku kiranya Kuasa Kasih Allah ini dapat mengalir dalam hati kami masing-masing, Kuasa Kasih Allah yang membuat keadaan berbalik setiap jiwa kami kembali ke jalan benar dekat pada Allah, menuruti Sabda Firman Allah: suami istri yang sudah disatukan Allah tidak dapat dipisahkan oleh siapapun, suami istri adalah sudah menjadi satu daging dalam kehidupan rohani Sorgawi. Seorang istri yang memberi hormat pada suaminya dan seorang suami yang memberi cinta pada istrinya dan orang tua (ayah-ibu) yang memberi kasih sayang kepada anak-anaknya, mengajar dan mendidik mereka dalam ajaran kebenaran Firman Tuhan, anak-anak yang  taat dan patuh pada perintah orang tua, anak-anak yang menghormati orang tuanya. Anak-anak, ibu dan ayah yang hidup dalam satu rumah tangga yang bahagia, hidup rukun dan damai seperti minyak yang turun dari kepala hingga ke jambang hingga ke janggut dan hingga ke jubahnya Harun. Rumah tangga yang diberkati Tuhan seperti berkat Allah yang turun pada gunung Hermon, sebab kepala rumah tangga idaman adalah Kristus Yesus Tuhan Sang Juru Selamat. Alangkah baiknya rumah tangga dan seisinya beribadah dan menyembah pada Tuhan Allah saja, bukan seperti orang asing  di seberang sungai Efrat yang beribadah kepada allah lain.
Foto: Mertuaku yang misterius.
                Hati Tuhan dan seluruh hati penghuni Sorga akan sangat bersuka cita bila seorang fasik kembali dari jalannya yang menyimpang kembali ke jalan terang Tuhan, hati semua keluarga/famili dan hati semua orang yang mencintaimu akan bersuka cita bila engkau wahai istri tercinta kembali ke rumah tanggamu, kembali ke sisi suamimu. Kembalilah wahai istriku yang tercinta, rumah tanggamu telah lama merindukan kehadiranmu, kembalilah segera kita gapai hidup bahagia, hidup abadi panjang umur tanda penuh diberkati Tuhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar